Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You
    It helps you see more of our articles when you search on Google
    [PUISI] Meringkuk Dimakan Sepi
    unsplash.com/Paul Garaizar

    Padahal aku hanya diam saja

    Duduk sendirian dibawah langit terbuka

    Kenapa hari ini semakin gelap dan sunyi saja

    Bahkan angin enggan mengepakkan sayapnya

    Lalu dimana binatang malam? Apa ikut lenyap ditelan malam?

     

    Kupikir, hari ini akan berbeda

    Kupikir, warnanya tak lagi abu-abu atau hitam

    Nyatanya, segalanya masih serupa dan sama saja

    Aku masih sendiri, hampir mati dimakan sepi

    Jangan-jangan, aku dan sepi itu teman sejati

     

    Kau tahu bagaimana rasanya hidup jadi bayangan?

    Padahal kau itu nyata, tapi seperti tak terlihat saja

    Jadi begitu, senyap dan hening memang teman baikku

    Rasanya bisa menenangkan tapi juga membunuhmu pelan-pelan

    Sepi itu membentuk lubang, menekan dadamu semakin dalam

     

    Sini, kubisikan apa lagi yang lebih mengerikan selain kehilangan

    Dengar baik-baik agar kau bisa paham

    Rasanya sangat menyakitkan dan meremukkanmu sampai ke tulang

    Adakah yang lebih menakutkan selain hidup dalam sepi? 

    Ia akan menyekapmu dalam kesendirian selamanya

     

    Sshhh..suara berisik itu cuma fatamorgana

    Mau saja terjebak dalam senang yang semu

    Pada akhirnya, keramaian itu akan pergi dengan tak tahu malu

    Kan sudah kuperingatkan, kau dan sepi itu sahabat sejati

    Setidaknya dalam sunyi, jiwamu lepas tanpa ada yang menghakimi

     

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

    Editorial Team