Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kuliah Sambil Kerja Makin Diminati, Kampus Ubah Cara Belajar

4 min read
Kuliah Sambil Kerja Makin Diminati, Kampus Ubah Cara Belajar
ilustrasi kuliah (pexels.com/Yan Krukau)
Share Article

Bandung, IDN Times – Empat tahun setelah menghentikan kuliah demi membantu keluarganya, Dinda akhirnya kembali duduk di bangku pendidikan tinggi. Di sisi lain, Farras berhasil mencatatkan sejarah baru bagi keluarganya sebagai orang pertama yang meraih gelar sarjana.

Dua kisah berbeda ini menggambarkan perubahan yang mulai terjadi di dunia pendidikan tinggi Indonesia yakni kampus tidak lagi hanya menuntut mahasiswa menyesuaikan diri dengan sistem, tetapi mulai beradaptasi dengan realitas kehidupan mereka.

Perubahan tersebut terlihat dari semakin banyaknya mahasiswa yang menjalani perkuliahan sambil bekerja, menopang ekonomi keluarga, atau menjadi generasi pertama yang mengenyam pendidikan tinggi. Fenomena ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan mahasiswa di Kalbis University Jakarta dan Horizon University Karawang yang berada di bawah naungan Horizon Education.

  1. 1. Semakin banyak pekerja kembali ke bangku kuliah

    Bagi Dinda, melanjutkan pendidikan tinggi bukan keputusan yang mudah. Ia sempat menghentikan kuliah setelah melihat ayahnya yang hidup dengan disabilitas tetap bekerja sebagai pengemudi demi menghidupi keluarga.

    Situasi tersebut membuat Dinda memilih bekerja dan menunda mimpinya meraih gelar sarjana. Namun setelah empat tahun, ia memutuskan kembali melanjutkan pendidikan melalui program Kelas Karyawan di Kalbis University.

    Pilihan itu membuka jalan baru baginya untuk tetap membangun karier sekaligus menyelesaikan pendidikan yang sempat tertunda.

    “Dulu saya berpikir bahwa kuliah dan bekerja tidak mungkin dilakukan secara bersamaan. Program Kelas Karyawan Kalbis membuktikan bahwa anggapan saya salah, saya bisa tetap mengembangkan karier sekaligus meraih gelar tanpa harus memilih salah satunya,” ujar Dinda dalam keterangan tertulis yang diterima IDN Times, Kamis(17/9/2026)

    Kisah seperti Dinda kini semakin banyak ditemukan. Mahasiswa tidak lagi didominasi lulusan SMA yang langsung masuk perguruan tinggi, tetapi juga pekerja yang ingin meningkatkan kompetensi tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka.

    Perubahan kebutuhan inilah yang mendorong kampus menghadirkan model pembelajaran yang lebih fleksibel agar pendidikan tinggi tetap dapat diakses oleh mereka yang memiliki tanggung jawab pekerjaan maupun keluarga.

  2. 2. Menjadi sarjana pertama di keluarga masih menjadi mimpi besar

    Jika Dinda mewakili pekerja yang kembali kuliah, Farras menghadirkan cerita lain yang tidak kalah penting. Lulusan Keperawatan Horizon University itu menjadi orang pertama di keluarganya yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.

    Pencapaian tersebut bukan hanya tentang gelar akademik, tetapi juga simbol perubahan bagi keluarganya.

    Ibunya, Yayah, mengaku perjalanan pendidikan putranya tidak terlepas dari dukungan lingkungan kampus yang terus mendampingi mahasiswa selama proses belajar.

    “Terkadang, yang membuat orang tua yakin bukan hanya nama universitasnya, tetapi juga orang-orang di baliknya. Mereka yang percaya pada anak-anak mereka dan mendampingi setiap langkah perjalanan mereka,” ujar Yayah.

    Fenomena mahasiswa generasi pertama seperti Farras masih menjadi bagian penting dalam pendidikan tinggi Indonesia. Banyak keluarga yang belum memiliki pengalaman mengenyam pendidikan tinggi sehingga keberhasilan satu anggota keluarga meraih gelar sarjana sering kali menjadi titik awal perubahan sosial dan ekonomi bagi generasi berikutnya.

    Di Karawang dan wilayah Purwasukasi yang mencakup Purwakarta, Subang, serta Kabupaten Bekasi, kebutuhan terhadap pendidikan tinggi yang terjangkau dan dekat dengan masyarakat masih terus meningkat. Kondisi tersebut turut mendorong pertumbuhan jumlah mahasiswa Horizon University yang kini mendekati 3.000 orang.

  3. 3. Kampus mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan mahasiswa

    Perubahan profil mahasiswa membuat perguruan tinggi mulai mengubah pendekatan pembelajaran. Kampus tidak lagi hanya menyediakan ruang kuliah, tetapi juga sistem yang memungkinkan mahasiswa tetap belajar di tengah berbagai tanggung jawab lainnya.

    Selain menghadirkan program Kelas Karyawan, Horizon University dan Kalbis University juga mengembangkan berbagai program pendampingan, coaching, serta penguatan kemampuan bahasa Inggris melalui Global Workplace English Program untuk membantu mahasiswa menghadapi dunia kerja.

    Pendekatan tersebut sejalan dengan pandangan Country Head PHINMA Education Indonesia, Dr. Raymundo P. Reyes, yang menilai pendidikan tinggi harus mampu mengikuti kebutuhan mahasiswa yang semakin beragam.

    Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki latar belakang dan tantangan yang berbeda. Ada yang bekerja penuh waktu, menjadi pencari nafkah keluarga, maupun menjadi orang pertama yang menempuh pendidikan tinggi di keluarganya.

    “Setiap mahasiswa memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang merupakan profesional yang bekerja, ada yang menjadi orang pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi, dan banyak pula yang harus membagi waktu antara kuliah dan tanggung jawab keluarga. Kami percaya bahwa pendidikan tinggi harus mampu beradaptasi dengan kehidupan mahasiswa, bukan sebaliknya. Dengan begitu, setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan dan mencapai tujuan mereka,” ujar Raymundo.

    Perubahan cara pandang tersebut menjadi salah satu wajah baru pendidikan tinggi di Indonesia. Di tengah tantangan ekonomi dan dunia kerja yang terus berubah, kampus tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang yang membantu mahasiswa tetap melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan tanggung jawab hidup yang mereka hadapi setiap hari.

Share Article
Topics
Editorial Team

Latest in News

See More