Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You
    It helps you see more of our articles when you search on Google
    Erupsi GAK, Kondisi Partikulat Luar Ruangan Itera Kategori Tak Sehat
    erupsi gunung semeru.jpg
    • Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu masuknya abu vulkanik ke sejumlah wilayah Lampung, dengan pemantauan Itera menunjukkan partikulat luar ruangan berkategori tidak sehat.
    • Itera menghentikan kuliah tatap muka, beralih ke pembelajaran daring, dan menerapkan kerja dari rumah hingga kondisi kualitas udara memungkinkan.
    • Tim Teknik Lingkungan Itera mengukur PM2.5, PM10, gas, serta cuaca menggunakan berbagai instrumen, tetapi belum dapat memastikan seluruh partikulat berasal dari abu vulkanik.
    This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

    Lampung Selatan, IDN Times - Kualitas udara di lingkungan kampus dipantau Program Studi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sumatera (Itera). Itu imbas masuknya abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) ke sejumlah wilayah Lampung.

    Hasil pemantauan awal menunjukkan konsentrasi partikulat di dalam ruangan berada pada kategori tidak sehat dan perlu diwaspadai. Saat ini, Itera menghentikan perkuliahan tatap muka dan menggantinya dengan kuliah dalam jaringan (daring), serta menerapkan bekerja dari rumah (work from home) hingga kondisi memungkinkan.

    1. Pemantauan gunakan dua perangkat

    Dosen Teknik Lingkungan Itera, Novi Kartika Sari, menjelaskan pemantauan dilakukan menggunakan dua perangkat, yakni alat pemantauan udara ambien di area depan pelataran Gedung A dan alat pemantauan kesehatan lingkungan kerja untuk mengukur kondisi udara di dalam ruangan Gedung A.

    “Parameter yang kami ukur meliputi PM2.5 dan PM10 untuk udara luar dan dalam ruangan, kemudian SO₂, NO₂, CO, CO₂, serta parameter meteorologi seperti arah dan kecepatan angin, suhu, kelembapan, dan tekanan,” ujar Novi, Senin (7/9/2026).

    Pemantauan dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitas udara di lingkungan Itera sekaligus melihat potensi pengaruh partikulat dari aktivitas erupsi GAK. Namun, Novi menegaskan perangkat yang digunakan tidak dapat secara langsung mengidentifikasi apakah partikulat yang terukur seluruhnya berasal dari abu vulkanik.

    “Alat ini merupakan instrumen untuk pengukuran kualitas udara ambien, sehingga tidak bisa secara langsung mengatakan partikulat yang terukur berasal dari abu vulkanik. Namun, kita dapat memprediksi apakah lokasi yang menjadi reseptor terpengaruh oleh abu vulkanik atau tidak,” jelas Novi.

    2. Gunakan beberapa metode dan instrumen

    Menurut Novi, prediksi tersebut dapat dilakukan dengan mempertimbangkan episode erupsi yang menghasilkan material abu dalam jumlah besar serta arah angin dari lokasi erupsi yang mengarah ke wilayah Lampung.

    Dalam pemantauan ini, Teknik Lingkungan Itera menggunakan beberapa metode dan instrumen. Pengukuran PM10 dan PM2.5 di luar ruangan dilakukan menggunakan High Volume Air Sampling (HVAS).

    Sedangkan partikulat di dalam ruangan menggunakan Low Volume Air Sampling (LVAS). Pengukuran gas SO₂ dan NO₂ dilakukan dengan metode impinger, sementara CO dan CO₂ dipantau menggunakan sistem berbasis sensor.

    Topics

    Editorial Team

    Related Article