Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Eksploitasi Freeport, Indonesia Tak Ubahnya "Jongos" Pihak Asing

Eksploitasi Freeport, Indonesia Tak Ubahnya "Jongos" Pihak Asing
Share Article

Hampir setengah abad lamanyaĀ Freeport telah mengeruk kekayaan alam Indonesia. Terutama kekayaan alam yang ada di Papua. Selama itu pula, Freeport telah mengeruk jutaan ton emas dan tembaga di tanah air. Keuntungan yang didapatkan oleh Freeport di Papua menurut catatan Human Right for Social Justice Ā mencapai angka 114 miliar dolar AS. Dengan kata lain, dalam sebulanĀ Freeport bisa memperoleh keuntungan sebesar 589 juta dolar AS atau setara 3,534 triliun rupiah.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151212/pt-viva-1d8fa8a03023369035f062ec552ffcf5.jpg

Tapi ternyataĀ ada fakta yang spektakuler di balik keuntungan tersebut. Rakyat Indonesia justru hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit saja. Bahkan, banyak rakyat Papua yang berada di sekitar pertambangan Freeport tidak merasakan tetesanĀ keuntungan ini. Rakyat Papua masih harusĀ hidup dalam kemiskinan. Cerita tentang penyakit baru dan kelaparan juga tak henti-hentinya berhembus.

Kontribusi Freeport terhadap penerimaan negara pun juga terbilang minim. Pemerintah Indonesia hanya menerima royaltiĀ emas sebesar 1 persenĀ dan royaltiĀ tembaga 1,5 persen - 3,5 persen. Ditambah lagi, Freeport juga sering membandel saat membayar dividen ke pemerintah Indonesia. Misalnya saja, tiga tahun lalu saat Freeport seharusnya menyetor 1,5 triliun rupiah, namun yang dibayarkan baru 350 miliar rupiah sajaĀ kepada pemerintah Indonesia.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151212/pt-skanaa-d2739d55181dfa14f351c8154724a535.jpg

Sadar akan adanya eksploitasi yang dilakukan oleh Freeport, pemerintah pada masa itu pun langsung menyuarakan renegosiasi ulang untuk kontrak karya dengan Freeport. Namun, Freeport menentang hal tersebut dan mengancam akan membawa kasus ini ke Arbitrase Internasional. Gertakan ini pun berhasil menciutkan nyali Indonesia untuk melakukan negosiasi lebih lanjut dengan Freeport.

Koreksi untuk Pemerintah Indonesia dalam menghadapi Freeport di masa mendatang.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151212/pt-cdm-4144cfdbf0747a5a9f7daf6b5d96c70e.jpg

Ibaratnya,Ā Indonesia bagaikan ā€œjongosā€ atau pembantu di hadapan Freeport. Pemerintah RI lebih tunduk kepada tuntutan dari Freeport dibandingkan dengan hukum nasional. Buktinya, saat pemerintah tak segan mengoreksi aturan yang dibuatnya sendiri apabila dirasa merugikan kepentingan Freeport.

Selain itu, Indonesia juga serasa tak punya nyali untuk menjalankan konstitusinya dan menyelenggarakan peraturan di setiap jengkal tanah airĀ yang dieksploitasi oleh Freeport. Dengan mengatasnamakan ā€œkesucian kontrakā€, Freeport telah menginjak-injak kedaulatan Indonesia.

http://cdn.idntimes.com/content-images/post/20151212/pt-eramuslim-915f79da66bf8a94958d5b5ec260b305.jpg

Di era Soekarno, dia benar-benar menolak saat pengusaha Amerika Serikat hendak membuka usaha tambang di Papua. Presiden Pertama RI ini tahu jika kapitalisme dalam pertambangan berpotensi menerkam Indonesia bulat-bulat. Namun, setelah kekuasaan Soekarno berakhir, Jendral Soeharto memulai rezim baru. Usai dilantik, dia langsung meneken pengesahan Undang-Undang Penanaman Modal Asing pada tahun 1967. Freeport menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani oleh Soeharto. Disitulah awal mula Freeport mengeruk kekayaan alam tanah air.

    Share Article

    Curated For You

    Editorial Team
    Rizal
    EditorRizal