Didik menyebut kekuasaan ilegal di bawah tanah seperti ini seperti makhluk halus, sulit dideteksi tetapi terasa pengaruhnya terhadap pemerintahan yang formal. Eksistensi shadow politik seperti ini jelas merusak tatanan demokrasi dan mengganggu pemerintahan yang sedang berjalan.
"Jokowi, setalah selesai menjadi Presiden masih terus ingin berkuasa, berhasil lewat anaknya dengan manipulasi kosntitusi dan berhasil selama dua tahun, tetapi kini sudah berakhir. Janjinya menjadi orang biasa seperti presiden di negara demokrasi, ternyata bohong dan sampai sekarang masih terus berkehndak memainkan kekuasannya," kata dia.
"Jadi sudah benar Presiden Prabowo melenyapkan shadow politics Jokowi, dan menghilangkan keraguan masyarakat akan adanya dualisme kekuasaan. Kini, kekuasaan yang formal tidak lagi penjadi bayang-bayang kekuasaan Jokowi," sambung Didik.
Praktik shadow politics ini, kata Didik, baru terjadi sejak Presiden Sukarno. Presiden-presiden Indonesia setelah berkuasa selesai tugas politiknya, dan tidak pernah berusaha untuk menancapkan pengaruh personalnya.
"Tetapi Jokowi yang lugu itu lain, perilaku kekuasaaannya selama menjabat menjadi masalah bagi demokrasi, dan di ujung kekuasannya berusaha untuk mengubah konstitusi menjadi tiga periode. Setelah selesai menjadi presiden masih terus berusaha menancapkan pengaruh personalnya, karena merasa berjasa dalam Pilpres," kata dia.
Didik menyebut praktik seperti ini bisa menjadi preseden, karena itu civil society, kaum intekektual, mahasiswa harus mencegah agar presiden berikutnya tidak meniru perilaku seperti ini. Jika preseden ini terus terjadi, maka jangan harap demokrasi menjadi sehat.
"Dengan prektik shadow politics seperti itu, demokrasi Indonesia akan menajadi compang-camping," kata dia.
Didik mengungkap apa yang dilakukan Jokowi adalah personalisasi politik. Dengan pengaruh pribadinya sebagai mana penguasa yang berada di luar kekuasan, tetap bisa cawe-cawe dan berpegaruh terhadap sistem formal. Ini membahayakan masa depan demokrasi Indonesia.
"Sampai sebelum terjadi resuffle kapolri dan menteri-menteri bayangannya, Jokowi memainkan praktik shadow politics dengan pengaruh politik bersifat informal tetapi kuat. Adanya hantu 'kekuasaan bayangan' atau pengaruh dari luar ke dalam sistem formal muncul karena masih ada kaki tangan atau orang-orang tertentu di dalam sistem, kekuasaan yang formal dengan menampatkan figur-figur loyal di posisi strategis," kata dia.
Sekarang setelah resuffle, Didik melanjutkan, sistem presidensial menjadi lebih sehat, kekuasaan eksekutif sepenuhnya berada di tangan presiden yang menjabat. Intervensi dari luar sistem melalui kaki tangan di dalam kekuasaan sudah lenyap dan harus dimusnahkan, karena dapat menciptakan dualisme kepemimpinan yang mengaburkan akuntabilitas publik.