Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Ketika Hujan Berpaling

[CERPEN] Ketika Hujan Berpaling
unsplash/Rhendi Rukmana

Hari ini awan mendung sudah berlalu, seperti Hujan yang sudah berpaling meninggalkanku. Bukan, bukan hujan tetesan air dari langit, tapi Hujan lelaki yang selama ini mengisi kekosongan hidupku.

Dulu aku pikir awan mendung dan malam akan sangat serasi menghadapi gelap, tapi nyatanya hari ini aku si Bulan penghuni malam tak lagi bersama Hujan.

Ya, namaku Bulan, sama seperti bulan yang menutupi banyak lubang dengan cahaya indahnya, aku pun demikian. Tersenyum dan bercahaya menutup banyak luka akibat kecewa dan kesedihan.

Tentu sebuah perpisahan bukan hal yang direncanakan dua insan, tapi bisa saja rencana itu datang dari salah satu pihak ketika cinta telah terhenti.

Dengan segala kesakitan aku menerima perpisahan, aku tak masalah jika hujan berpaling. Apa dayaku jika memang sudah tak bersama? Hujan punya hak untuk bahagia  walaupun tanpa aku. 

Tak ada masalah, aku pun sanggup untuk berterima kasih. Aku tak menghapus semua jejak, karena aku pikir biarkan ini terhenti sebagai kisah yang indah. 

Ternyata aku salah, kamu yang pernah aku cintai dengan begitu besar, memilih untuk berbicara kejam. Seolah semua yang terjadi di antara kita tak pernah ada. Bahkan tak segan mengumbar sisi burukku. 

Tak berhenti di situ kau membakar kecewa yang lebih besar, kepergianmu tak hanya sendiri. Kau membawa Matahari, kamu berpaling padanya. 

Matahari yang dulu menjadi temanku kala senja pun mengaku tak mengenalku dengan baik. Tak mengapa, mungkin ini cara Tuhan mendewasakanku. 

Kebersamaan kalian pun sudah menjadi ketetapannya tak ada yang bisa mengubahnya. 

"Hujan, mengapa harus selama ini bertahan? Jika kamu sudah tahu tak mungkin bisa bersamaku?" Ingin rasanya aku menanyakan itu padanya. 

Kesakitanku bukan karena kebersamaan mereka, tapi tak bisakah sedikit saja beri aku jeda waktu untuk menata diri? 

Melepaskan kenangan pasti tak mudah untuk sebuah kisah yang telah lama berjalan, mengikhlaskannya pada orang lain saja sulit,  apalagi bersama teman sendiri ? 

Mungkin matahari dan bulan tak pernah bersinar bersama, seperti aku dan Matahari. Tapi setidaknya kami pernah menghiasi langit menjadi jingga untuk sebuah perpisahan yang indah. 

Setidaknya dari mereka aku belajar arti teman dan di dunia ini tak ada yang abadi. Dia yang dulu begitu mencintaiku, kini seolah membenciku. Mengabaikan semua kebaikanku hanya untuk mengibarkan keburukanku. 

Selamat tinggal Hujan, selamat menikmati hidup di bawah teriknya matahari. ***

 

© Chesamstory 

3 Maret 2019

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Caroline Sambuaga
EditorCaroline Sambuaga
Follow Us

Latest in Fiction

See More

Apakah Ojek Online Beroperasi saat Lebaran?

12 Mar 2026, 15:00 WIBFiction
artikel baru ramadan

artikel baru ramadan

18 Feb 2026, 10:35 WIBFiction
Sed fugiat amet eu omnis

Sed fugiat amet eu omnis

12 Feb 2026, 15:45 WIBFiction
dewd

dewd

10 Feb 2026, 10:49 WIBFiction
Artikel coba save aja

Artikel coba save aja

10 Feb 2026, 00:00 WIBFiction
case event

case event

19 Jan 2026, 16:18 WIBFiction
gtrg

gtrg

17 Des 2025, 16:33 WIBFiction
dewdw

dewdw

13 Nov 2025, 14:37 WIBFiction
artikel biasa aja

artikel biasa aja

28 Okt 2025, 16:00 WIBFiction