Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Kawan Sore

[CERPEN] Kawan Sore
Unsplash.com/Sasha Freemind

Sore itu langit nampak cerah dengan warna biru terang dihiasi dengan pemandangan lalu lalang para kawanan burung. Mata perempuan berkulit hitam manis itu berbinar binar menyaksikan kawanan burung itu terbang di atas kepalanya. Seseorang di sampingnya pun tak kalah bahagianya melihat pemandangan itu. Hamparan lapangan yang luas menjadi alas bagi tubuh mereka.

ā€œRa, hari ini langitnya cerah yah, nggak kayak biasanyaā€ Kata perempuan berwajah pucat di sampingnya itu.

ā€œIyah, mungkin lagi bahagia. Karena hari ini hari ulang tahunmuā€ Perempuan itu menoleh kepada perempuan berwajah pucat di sampingnya.

ā€œKamu mau hadiah apa Tian?ā€ Tanyanya bangkit dari tidurnya.

Perempuan berwajah pucat itu juga bangkit mengikuti Rara.

ā€œAku? Nggak mau hadiah apa apaā€ Jawabnya menatap lurus

ā€œKok gitu? ā€œ

Tian tersenyum, senyumnya lemah.

ā€œKalau aku mau kamu menemani aku di sini tiap sore hari, Tuhan bakalan kabulin nggak yah?ā€ Tian kemudian menengadahkan kepalanya ke langit.

ā€œDikabulin lah. Tuhan kan baikā€

ā€œKamu nggak akan selamanya bisa ada di sini Ra, suatu hari kamu pasti pergiā€

ā€œNggak! Siapa bilang! Aku nggak akan pergi! Buktinya, setiap sore aku datang ke siniā€

Perempuan pucat itu menatap kawannya yang berada di sampingnya kemudian tersenyum.

ā€œAku bakal tetap jadi kawan Tian selamanya. Aku nggak akan pergiā€

ā€œJanji yah Raā€¦ā€ Perempuan pucat itu mengangkat kelingkingnya.

ā€œJanjiā€ Rara kemudian mengaitkan kelingkingnya. Mereka berdua tertawa bahagia.

ā€œOh iyah Tian, hari ini pak Bowo mengusirku lagi, aku kesalā€ Rara tiba tiba bersuara. Perempuan pucat itu merespon dengan senyuman.

ā€œSeharusnya kamu memang tidak ada di sini Raā€ Jawab Tian.

ā€œDia selalu saja menggangguku, inikan rumahmuā€ Katanya kesal.

Langit kemudian berubah warna menjadi merah muda. Sebentar lagi malam. Rara harus bangkit secepatnya meninggalkan Tian sendirian. Sebentar lagi sosok Rara akan menghilang. Ia berdiri dari tempat duduknya menatap tempat peristirahatan Tian. Esok Rara akan kembali lagi di sore hari dan kembali berbincang dengan Tian.

Seseorang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan, melihat tingkah anehnya yang duduk sendirian di samping sebuah nisan. Tertawa, tersenyum dan berbicara entah kepada siapa.

Seorang kakek tua menghampirinya. ā€œNamanya Rara, gadis yang akan kamu lihat setiap sore hari di tempat ini.

ā€œApa yang dia lakukan di sana?ā€

ā€œNisan itu milik sahabatnya. Tian, yang sebulan lalu kecelakaan dan meninggal, Rara merasa bersalah dengan kepergian Tian, itu sebabnya dia selalu berhalusinasi bertemu Tian setiap sore hari di tempat ini. ā€œ

ā€œApa dia tidak ke dokter?ā€

ā€œSudah. Tentu saja. Orang tua mana yang akan tega melihat anaknya seperti itu. Tapi halusinasinya sangat kuat, hanya dia yang bisa melawannya.ā€

Laki laki itu ternganga mendengar penjelasan dari pak Bowo, penjaga makam.

ā€œKamu akan terbiasa melihatnya nanti.ā€ Pak Bowo kemudian berlalu meninggalkan lelaki itu.

Keesokan harinya, lelaki itu datang lagi dan memastikan keberadaan gadis itu. benar saja, gadis itu datang tepat pada sore hari.

Lelaki itu menghampirinya. ā€œHai, boleh duduk di sini?ā€

ā€œKamu siapa?ā€

ā€œNamaku Dittoā€ Perempuan itu menatap heran.

ā€œSedang apa di sini?ā€ Tanya Ditto, duduk di samping Rara.

ā€œBerkunjung ke rumah sahabatkuā€

ā€œSahabat kamu mana?ā€

ā€œNih, ada di sampingku, namanya Tianā€ Kata perempuan itu bahagia, Ditto berupaya mengulas senyum semanis mungkin.

ā€œApa sahabatmu melihatku?ā€

ā€œApa maksudmu, tentu saja dia melihatmu, kau tidak lihat dia tersenyumā€

Ditto mengangguk.

ā€œSahabatmu membisikkanku sesuatuā€

ā€œApa katanya?ā€

ā€œDia bilang, aku harus membawamu dari sini, ke tempat yang lebih nyamanā€

ā€œBenarkah? Tian apa benar kau berkata demikianā€ Ucapnya dengan sosok imajinasinya.

ā€œKemana Tian pergi? Kenapa dia menghilang?ā€

ā€œDia sudah pergi duluan, kau mau ikut denganku kan?ā€ Ditto mengulurkan tangannya kepada perempuan manis itu.

ā€œAsal Tian ada, aku mauā€ Perempuan itu kemudian meraih tangan Ditto. Ditto membawa perempuan itu pergi dari pemakaman itu, langkah awal untuk membuatnya keluar dari dunia imajinasinya.

Ini bukan pertama kalinya Ditto menghadapi hal seperti ini, pekerjaannya menuntutnya untuk memasuki dunia pasiennya yang tidak bisa dipahami oleh manusia normal pada umumnya. Ia ingin membantu perempuan malang ini, agar perempuan ini bisa hidup normal dan terbebas dari rasa bersalah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Senja _
EditorSenja _
Follow Us

Latest in Fiction

See More

Apakah Ojek Online Beroperasi saat Lebaran?

12 Mar 2026, 15:00 WIBFiction
artikel baru ramadan

artikel baru ramadan

18 Feb 2026, 10:35 WIBFiction
Sed fugiat amet eu omnis

Sed fugiat amet eu omnis

12 Feb 2026, 15:45 WIBFiction
dewd

dewd

10 Feb 2026, 10:49 WIBFiction
Artikel coba save aja

Artikel coba save aja

10 Feb 2026, 00:00 WIBFiction
case event

case event

19 Jan 2026, 16:18 WIBFiction
gtrg

gtrg

17 Des 2025, 16:33 WIBFiction
dewdw

dewdw

13 Nov 2025, 14:37 WIBFiction
artikel biasa aja

artikel biasa aja

28 Okt 2025, 16:00 WIBFiction