Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] "Dilema Anak Rimba"

Share Article

Mentari mulai tersingkir,
Langit mengerang, tinggalkan kelam yang datang menggilir.
Tercekik napas menanti maut dengan khawatir.
Tak bernapas mati, bernapas pun kami mati.

Sanak saudara antara asap dan abu tak ingin mangkir,
Sedangkan kami menjadi fakir,
Berkhayal kan udara yang kami hirup,
Bukanlah racun yang menyiksa secara perlahan.

Rinai yang tak kunjung hadir,
Sedangkan kami, hanya berani berontak hingga titik nadir.
Terkepung panas dengan bara api yang terus membombardir,
Melahap harap dan napas bekal hidup kami.

Apa yang dapat kami pertahankan?
Sedangkan hutan kami dipasung kobaran,
Pun dengan anak kami yang tak bersalah menjadi korban.
Keserakahan, mengeruk harta tanpa pertimbangan.

Apa yang dapat kami hirup?
Sedang, kepulan asap kian menelusuk ke dalam paru-paru.
Mengikat nadi, menjerat nyawa.

 Ah, beginilah dilema anak rimba.
Tak bernapas kami mati,
Bernapas pun kami mati!

Singkawang, 22 September 2019

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More
artikel punya baca juga

artikel punya baca juga

01 Jul 2026, 13:47 WIB
Sed fugiat amet eu omnis

Sed fugiat amet eu omnis

27 Mei 2026, 15:45 WIB
case event

case event

19 Mei 2026, 16:18 WIB
artikel baru ramadan

artikel baru ramadan

18 Feb 2026, 10:35 WIB
dewd

dewd

10 Feb 2026, 10:49 WIB
Artikel coba save aja

Artikel coba save aja

10 Feb 2026, 00:00 WIB