Kuletakan payung biru tuaku
Kuhitung jejak angkahmu yang tersisa
Hujan menguyur topi usangku
Melambai-lambai mengiringi kepergianmu
Ā
Sabtu berjalan lambat
Tangan-tangan jam mengetuk mataku rapat-rapat
Jikalau kutanya: mengapa?
Kau hanya diam, mendadak jantungku terasa hampa
Ā
Telingaku mati tuli, hanya mendengar rintik hujan yang jatuh pada bumi
Bahkan, suaramu tak bisa lagi ku kenali
Kutanya kan kali ini: mengapa mencoba kembali?
Tahun-tahun kelam, sudah ku lewati dengan pelan
Ā
Dari arah mana kau ingin datang?
Yogyakarta sudah petang, kembalilah lagi ke Malang!
Hei, bukankah sudah kubilang!
Aku adalah luka, meskipun menjadi batang
Engkau tidak akan kubiarkan pulang!
Ā
Melati, diksiku sudah mati
Aku dulu mungkin menangis
Rasanya, ingin ku telusuri dunia ini
Hanya untuk, bertemu dengan-mu lagi
Tapi, itu dulu
Sekarang kita bukan apa-apa lagi!
Ā
Klaten 03 Januari 2020
![[PUISI] Diksi untuk Melati](https://image.rujakcingur.com/post/20191027/ehasid0u0aevu5a-ee25414c90868002b28c136b70bf6673.jpg)













![[QUIZ] Dari Karakter Upin Ipin, Ini Cara Kamu Handle Tekanan di Tempat Kerja](https://image.rujakcingur.com/post/20260702/upload_e5a6eb4f19678225331e53a1f4f5a2b3_a649e6a0-263d-4301-b86b-705f8e7a268f.jpeg)



![[QUIZ] Cara Kamu Mengatasi Konflik Mirip Karakter 'Upin & Ipin' Ini](https://image.rujakcingur.com/post/20260526/upload_3ebe829817a4d354eaa3436b1a38c730_02a46673-66b7-4894-828b-8cea8ce1d985.jpeg)