Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Di Ujung Timbangan yang Miring

[PUISI] Di Ujung Timbangan yang Miring
sqws
Share Article

Di lorong sunyi kota yang bising,
jejak langkah rakyat kecil terhapus angin,
di bawah bayang megah gedung pengadilan,
keadilan duduk tapi tak menoleh ke kiri,
hanya melihat emas yang disodorkan dari kanan.

Timbangan itu dulu katanya suci,
kini condong, berat sebelah, penuh intrik
hukum berdiri tapi matanya tidak tertutup,
karena ia tahu siapa yang bisa membeli
dan siapa yang tak sanggup membayar mimpi.

Tangis ibu yang anaknya dituduh curi roti,
tak pernah menggema di ruang hakim tinggi,
tapi senyum pengusaha yang lolos korupsi
mengalirkan angin sejuk ke ruang sidang ini.

Apakah keadilan hanya dongeng sekolah dasar?
Apakah suara kecil harus selalu dibungkam?
Di mana tempat bagi mereka yang tak punya kuasa,
selain di balik jeruji dan luka yang dipendam?

Rakyat kecil terus berjalan, tertatih dan diam,
di negeri yang menjanjikan hak namun memberi pil pahit.
Dan keadilan,keadilan 
mungkin hanya sebuah nama,
bukan sesuatu yang pernah berpihak.

[PUISI] Di Ujung Timbangan yang Miring (1)

senin
senin

Di lorong sunyi kota yang bising,
jejak langkah rakyat kecil terhapus angin,
di bawah bayang megah gedung pengadilan,
keadilan duduk tapi tak menoleh ke kiri,
hanya melihat emas yang disodorkan dari kanan.

Timbangan itu dulu katanya suci,
kini condong, berat sebelah, penuh intrik
hukum berdiri tapi matanya tidak tertutup,
karena ia tahu siapa yang bisa membeli
dan siapa yang tak sanggup membayar mimpi.

Tangis ibu yang anaknya dituduh curi roti,
tak pernah menggema di ruang hakim tinggi,
tapi senyum pengusaha yang lolos korupsi
mengalirkan angin sejuk ke ruang sidang ini.

Apakah keadilan hanya dongeng sekolah dasar?
Apakah suara kecil harus selalu dibungkam?
Di mana tempat bagi mereka yang tak punya kuasa,
selain di balik jeruji dan luka yang dipendam?

Rakyat kecil terus berjalan, tertatih dan diam,
di negeri yang menjanjikan hak namun memberi pil pahit.
Dan keadilan,keadilan 
mungkin hanya sebuah nama,
bukan sesuatu yang pernah berpihak.

[PUISI] Di Ujung Timbangan yang Miring (2)

sqws
sqws

Di lorong sunyi kota yang bising,
jejak langkah rakyat kecil terhapus angin,
di bawah bayang megah gedung pengadilan,
keadilan duduk tapi tak menoleh ke kiri,
hanya melihat emas yang disodorkan dari kanan.

Timbangan itu dulu katanya suci,
kini condong, berat sebelah, penuh intrik
hukum berdiri tapi matanya tidak tertutup,
karena ia tahu siapa yang bisa membeli
dan siapa yang tak sanggup membayar mimpi.

Tangis ibu yang anaknya dituduh curi roti,
tak pernah menggema di ruang hakim tinggi,
tapi senyum pengusaha yang lolos korupsi
mengalirkan angin sejuk ke ruang sidang ini.

Apakah keadilan hanya dongeng sekolah dasar?
Apakah suara kecil harus selalu dibungkam?
Di mana tempat bagi mereka yang tak punya kuasa,
selain di balik jeruji dan luka yang dipendam?

Rakyat kecil terus berjalan, tertatih dan diam,
di negeri yang menjanjikan hak namun memberi pil pahit.
Dan keadilan,keadilan 
mungkin hanya sebuah nama,
bukan sesuatu yang pernah berpihak.

[PUISI] Di Ujung Timbangan yang Miring (3)

sqws
sqws

Di lorong sunyi kota yang bising,
jejak langkah rakyat kecil terhapus angin,
di bawah bayang megah gedung pengadilan,
keadilan duduk tapi tak menoleh ke kiri,
hanya melihat emas yang disodorkan dari kanan.

Timbangan itu dulu katanya suci,
kini condong, berat sebelah, penuh intrik
hukum berdiri tapi matanya tidak tertutup,
karena ia tahu siapa yang bisa membeli
dan siapa yang tak sanggup membayar mimpi.

Tangis ibu yang anaknya dituduh curi roti,
tak pernah menggema di ruang hakim tinggi,
tapi senyum pengusaha yang lolos korupsi
mengalirkan angin sejuk ke ruang sidang ini.

Apakah keadilan hanya dongeng sekolah dasar?
Apakah suara kecil harus selalu dibungkam?
Di mana tempat bagi mereka yang tak punya kuasa,
selain di balik jeruji dan luka yang dipendam?

Rakyat kecil terus berjalan, tertatih dan diam,
di negeri yang menjanjikan hak namun memberi pil pahit.
Dan keadilan,keadilan 
mungkin hanya sebuah nama,
bukan sesuatu yang pernah berpihak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More
artikel punya baca juga

artikel punya baca juga

01 Jul 2026, 13:47 WIB
Sed fugiat amet eu omnis

Sed fugiat amet eu omnis

27 Mei 2026, 15:45 WIB
case event

case event

19 Mei 2026, 16:18 WIB
artikel baru ramadan

artikel baru ramadan

18 Feb 2026, 10:35 WIB
dewd

dewd

10 Feb 2026, 10:49 WIB
Artikel coba save aja

Artikel coba save aja

10 Feb 2026, 00:00 WIB