Seorang warga berpose untuk foto saat sedang menggunakan ember untuk membersihkan salju di sekeliling tendanya di perkemahan tunawisma Oppenheimer Park setelah badai menyebabkan suhu udara menyentuh titik terendah -7 derajat Celcius dan salju setinggi lebih dari 30 cm dalam semalam di pusat kota Vancouver, British Columbia, Kanada, pada 16 Januari 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Jesse Winter
Dalam laporan tersebut, Presiden World Economic Forum Børge Brende, meminta agar pemerintah dan organisasi-organisasi dunia segera mengambil kebijakan tegas. "Soal lingkungan hidup, kami mencatat dengan kekhawatiran yang amat sangat tentang konsekuensi degradasi lingkungan terus-menerus, termasuk hilangnya spesies yang mencatatkan rekor tercepat," kata Brende.
"Meski ada kebutuhan untuk lebih ambisius menyangkut aksi iklim, PBB mengingatkan bahwa negara-negara telah melenceng dari jalur untuk urusan memenuhi komitmen mereka di bawah Persetujuan Paris soal perubahan iklim."
Selain itu, World Economic Forum juga menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan kebijakan iklim dengan perekonomian.
Salah satu contohnya adalah Bank of England yang mengingatkan perusahaan-perusahaan di industri bahan bakar fosil bahwa mereka harus bersiap untuk bangkrut jika gagal memahami risiko model bisnis di tengah upaya investasi yang mengarah ke energi ramah lingkungan.