IDN Times/Axel Jo Harianja
Lebih lanjut, mantan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) itu mengatakan, pihaknya ingin me-rebranding BKKBN agar dapat dikenal oleh kalangan millennial.
"Saya targetkan waktu 6 bulan, BKKBN harus move on, harus dikenal oleh millennial, harus ada rebranding. Dan visinya diperbaiki kemudian lebih fokus pada hal yang sifatnya penting," kata Hasto.
Salah satu hal yang telah dilakukan pihaknya agar menarik perhatian millennial adalah dengan meremiskan Sekolah Siaga Kependudukan di SMAN 1, Kepanjen Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Rabu (17/7) pagi.
"Ternyata, responsnya bagus. Ketika masalah kesehatan reproduksi itu kita ekspose itu bagus sekali. Ini bukan pendidikan seksual, beda lho pendidikan seks dan kesehatan reproduksi itu," ujarnya.
Ia pun mencontohkan, pendidikan kesehatan reproduksi adalah ketika perempuan yang hamil pada usia di bawah 20 tahun. Menurut Hasto, dalam segi biologis, perempuan di bawah usia itu belum cukup baik untuk melahirkan. Sebab, kepala bayi dan diameter panggul seorang perempuan ketika melahirkan, harus berukuran 10 sentimeter.
"Kalau usianya baru 18 tahun ternyata ini (tulang panggul) masih sempit. Ini contoh saja bahwa kalau usia terlalu dini," katanya
"Pendidikan seks itu disangkanya 'seks'. Bukan, hal-hal seperti itu lah supaya dia tidak tersesat. Makanya, itulah pentingnya BKKBN dikenal di kalangan millennial," sambungnya.