(Ilustrasi aksi protes pegawai KPK) ANTARA FOTO/Reno Esnir
Sementara, menurut salah satu anggota panitia seleksi capim KPK, Hamdi Muluk mengatakan wajar apabila Presiden Jokowi tidak mengoreksi 10 nama yang mereka sodorkan. Hal itu sebenarnya sudah bisa ditebak situasinya ketika ia dan delapan anggota pansel lainnya bertemu Jokowi di Istana Negara pada Senin (2/9).
Pertemuan dua pihak itu berlangsung lebih dari satu jam. Menurut Hamdi, yang menyebabkan lama, lantaran Jokowi dan pansel sama-sama meninjau kembali masing-masing profil capim.
"Itu wajarlah Presiden meninjau kembali, karena Beliau tahu sejak awal pemilihan ini sudah ramai," kata Hamdi yang ditemui oleh IDN Times secara khusus di ruang kerjanya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada Selasa (3/9).
Hamdi mengaku terkejut ketika berdiskusi dengan Jokowi, lantaran ia mengaku turut meluangkan waktu di tengah kesibukannya menyaksikan pernyataan masing-masing capim di YouTube.
"Satu-satu saya lihat itu. Bahkan, Beliau hapal (isi pernyataan yang disampaikan). Misalnya si A kemarin ngomong begini kan? Sedangkan, si B berbicara hal ini? Saya cermati kok itu," kata Hamdi menirukan kembali pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.
Maka, Hamdi bisa dengan tegas membantah suara-suara yang menyebut Jokowi tidak peduli terhadap proses seleksi capim KPK. Sebab, diam-diam, ia turut menyimak. Jokowi pun merasa tidak ada masalah dalam capim tersebut, termasuk rekam jejak Irjen (Pol) Firli Bahuri.