Kain tenun Sumbawa dikembangkan dengan teknik Palekat dan Songket. Bahan dasarnya katun hingga sutra, lalu benang yang digunakan perak dan emas. Ada beragam motif yang dihasilkan, seperti Kre Alang. Motif ini biasanya tersusun atas 4 hingga 5 motif dalam setiap lembarnya. Bentuknya berupa belah ketupat, sulur daun/bunga, dan garis simetris.
Adapun motifnya dikembangkan dari Kemang Setange, Lonto Engal, Pusuk Rebong, Gelampok, Pio, Ular Naga, dan Slimpat. Sedikit gambaran, Lonto Engal ini identik dengan tanaman merambat dengan buah terpendam di tanah. Pesannya, gambaran karakter pekerja keras yang menghindari sanjungan dan aksi formalitas. Intinya, karakter Lonto Engal lebih suka bekerja daripada berbicara.
“Tenun Sumbawa memang harus dimaknai. Potensinya sangat luar biasa. Kualitasnya bisa dinaikkan lagi melalui warna. Dalam fashion, warna menjadi komponen utama. Untuk itu, inovasi dan komposisi dari warna harus dieksplorasi. Tidak stag di komposisi itu saja. Pengembangannya juga diperluas terutama produknya,” tutur desainer Samuel Wattimena.
Selama ini, tenun Sumbawa identik dengan sarung atau kain bawah. Masyarakat di sana menyebutnya sebagai Sarung Tenun Kresesek. Dibuat secara tradisional, Sarung Kresesek ini dihasilkan Desa Moyo, Lengas, dan Poto. Alat tenunnya terdiri dari Tolang Guren, Golang Kecil, Belida, dan Sisir. Bahan bakunya adalah benang biasa dan benang kembaya (khusus untuk pembentukan motif).
“Tenun Sumbawa akan terus lestari. Sebab, generasi milenialnya memiliki perhatian lebih. Kami yakin, tenun Sumbawa akan terus berkembang dan bisa bersaing dengan karya serupa dari daerah lain. Sebab, Indonesia ini surganya tenun. Hampir tiap daerah memiliki tradisi tenun dengan motif khasnya,” tutur Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.