Suasana Rakernas dan HUT ke-47 PDI Perjuangan, Jumat (10/). (IDN Times/Irfan Fathurohman)
Megawati menceritakan, inti semangatnya dalam meniti karier politik bisa dibilang tak mudah. Setiap kepelikan dan kepedihan yang dialami Mega serta hampir menyerah, Presiden kelima RI ini selalu mengingat sang ayah, Proklamator RI Bung Karno dan nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila.
Megawati menyampaikan tak mudah membangun partai yang saat ini sudah berusia 47 tahun. Mulai saat mendirikan partai bernama Partai Demokrasi Indonesia di bawah rezim Soeharto, sampai kepemimpinan Joko Widodo, hari ini.
"Kegembiraan, kepedihan, kemajuan, harapan, kekecewaan, rasa pahit, rasa getir, manis, cemas, letih, babak belur, semua sudah kami alami. Setelah PDIP berturut-turut menang, dalam dua kali Pemilu, 2014 dan 2019, pertanyaan yang selalu menghentak dalam dada saya, inikah makna sesungguhnya sebuah kemenangan politik? Jika sudah menang Pemilu, lalu mau apa?" kata Megawati.
"Apakah menang Pemilu berupa kemenangan elektoral? Jadi tujuan akhir bagi partai? Kegelisahan-kegelisahan tersebut selalu melingkari diri saya. Beberapa hari ini saya merenung, saya mencoba menggali kembali lembar-lembar kehidupan politik yang saya lewati. Perenungan spritual itu mengingatkan saya kepada kotak pandora ingatan, kotak yang berisi cita-cita dan gagasan politik laki-laki yang saya panggil bapak," imbuh dia.