Pernikahan Dini: Catatan Suram Anak Perempuan Dunia

Jakarta, IDN Times - Pada hari anak perempuan internasional yang diperingati setiap 11 Oktober, nasib anak-anak perempuan di seluruh penjuru dunia masih menanggung banyak luka dalam kehidupan mereka.
Hari ini sejatinya menjadi momen menyuarakan hak anak perempuan di seluruh dunia tema. Tema yang diangkat setiap tahun berbeda. Tahun ini, tema yang diangkat adalah "Girl Force: Unscripted and Unstoppable".
Namun kenyataanya, banyak sekali hal miris yang tengah dihadapi anak-anak perempuan di dunia, mulai dari pernihakan pada usia dini ataupun kekerasan.
1. Menikah sebelum berulang tahun yang ke-18

Melansir dari data Unicef pada 2013, lebih dari 700 juta perempuan menikah sebelum ulang tahun mereka yang ke-18. Satu dari tiga di antaranya menikah sebelum umur 15.
2. Menikahi pria yang jauh lebih tua

Anak perempuan juga sering menikahi pria yang lebih tua di Mauritania dan Nigeria lebih dari separuh anak perempuan remaja berusia 15 hingga 19 tahun menikahi suami mereka yang 10 tahun lebih tua.
UNICEF menjelaskan bahwa pernikahan anak adalah manifestasi ketidak setaraan gender serta mencerminkan norma sosial yang melanggengkan diskriminasi terhadap anak-anak perempuan.
3. Mayoritas berada di India

Ternyata, hampir setengah dari seluruh pengantin anak di bawah umur berada di Asia Selatan. Sepertiga di antaranya berada di India. Presentase jumlah pengantin anak di seluruh dunia adalah 33 persen berasal dari India, 25 persen dari Asia Timur dan Pasifik, 9 persen berada di Amerika Latin dan Karibia, serta sisanya tersebar di Timur Tengah serta Afrika.
4. Anak berpikir kekerasan rumah tangga adalah pembenaran

Setengah dari anak yang berusia 15 hingga 19 tahun menilai bahwa lelaki dibenarkan untuk memukuli istri atau pasangannya. Jika sang perempuan menolak untuk berhubungan seks, meninggalkan rumah tanpa izin, berdebat, mengabaikan anak-anak, serta tidak menyiapkan keperluan makan malam, mereka cenderung melakukab kekerasan
5. Anak kehilangan momen masa kecil dan terisolasi

Data Unicef juga menjelaskan bahwa anak perempuan yang menikah tidak hanya kehilangan masa kecilnya. Mereka juga sering terisolasi secara sosial yakni terpisah dari keluarga serta teman-teman yang menjadi sumber dukungan mereka. Selain itu, pernikahan di usia dini juga membatasi peluang atas pendidikan dan pekerjaan.
6. Memiliki tiga anak di usia muda

Pernikahan dini juga tidak dapat membuat anak perempuan bernegosiasi secara efektif untuk melakukan seks yang lebih aman. Mereka cenderung tidak dapat menolak berhubungan seks sehingga kemungkinan untuk memiliki anak di usia muda pun lebih tinggi.
Kehamilan di usia tersebut berarti mereka memiliki bayi saat mereka belum matang. Apalagi merawat anak di usia tersebut dapat menyebabkan mereka tertekan secara psikologis.
Di Nepal, sepertiga perempuan berusia 20 hingga 24 tahun menikah sebelum ulang tahun mereka yang ke-15 dan telah memiliki 3 atau lebih anak.
Dampak negatif dari aktivitas seks tidak aman yang lebih banyak dipaksakan pihak lelaku, salah satunya adalah penyebaran HIV yang lebih tinggi.