ANTARA FOTO/Basri Marzuki
Pemerintah semakin menggenjot upaya untuk menekan jumlah golput, termasuk dengan melakukan perekaman KTP elektronik secepatnya. Per November tahun lalu, ada sebanyak 31 juta pemilh yang sudah melakukan perekaman KTP elektronik, tetapi belum masuk dalam DPT.
"Kalau belum memiliki KTP elektronik, kemungkinan mereka tidak bisa menggunakan hak pilihnya mereka ini yang kemudian sudah pesimis duluan, walaupun mereka mau memilih," ucap Titi. Menko Polhukam Wiranto yang ditemui saat menghadiri pertemuan Forum Pemimpin Redaksi di Hotel Aryaduta pada Selasa (9/4) sendiri tak bisa menjawab masalah ini.
Padahal, di acara itu, Wiranto berulang kali mengutarakan sikap tidak setujunya terhadap golput. "Kita bayangkan kalau semua orang golput, terus Pemilunya bagaimana? Kalau yang golput skalanya lebih besar dari 20 persen lalu keabsahan memilih itu bagaimana? Nah ini kita harus berpikir ulang," ujarnya ketika ditanya oleh IDN Times.
Sementara itu, menurut survei Indikator pada Maret lalu, ada 16,9 persen swing voters yang masih bisa berubah pikiran. Sedangkan ada 7,2 persen undecided voters yang masih belum memutuskan akan memilih siapa. Mereka ini sangat berpotensi untuk golput sehingga begitu direbutkan oleh masing-masing pasangan calon presiden-wakil presiden.