IDN Times/Margith Juita Damanik
Pada tahun 1990, Yusril diangkat oleh Presiden Soeharto sebagai penulis pidato Presiden dan membuat draft surat Presiden. Surat-surat Presiden yang dibuat Yusril tidak hanya ditujukan untuk lembaga-lembaga negara namun juga untuk pemimpin-pemimpin negara lain. Ketika Reformasi 1998, Yusril menjadi salah satu pihak yang mendukung perubahan politik di Indonesia. Pada masa itu, Yusril berperan besar terutama ketika dia menulis pidato berhentinya Presiden Soeharto pada Mei 1998.
Bagi Yusril, tawaran ini mengejutkan dirinya. Mengingat pada saat menjadi mahasiswa, Yusril salah satu aktivis kampus yang vokal menentang kebijakan pemerintahan Soeharto. Dalam video yang diunggah di akun miliknya, Yusril sempat mempertimbangkan tawaran tersebut cukup lama dan berkonsultasi dengan para seniornya sebelum akhirnya memutuskan menerima tawaran tersebut.
Selain menulis naskah dan surat Presiden untuk Soeharto, Yusril juga diminta menulis untuk untuk Presiden B.J Habibie serta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Yusril menulis naskah pidato sebanyak 120 buah untuk Soeharto, 80 buah untuk Habibie, dan 384 buah untuk SBY.