Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You
    It helps you see more of our articles when you search on Google
    ICW: Biaya Mahal Pilkada Akibat Jual Beli Pencalonan dan Politik Uang
    IDN Times/Fitang Budhi Adhitia

    Jakarta, IDN Times - Peneliti ICW Kurnia Ramadhana menyinggung polemik jual beli pencalonan atau mahar politik dalam ajang Pilkada. Menurutnya, hal tersebut adalah masalah utama dari mahalnya biaya politik. 

    Selain itu, politik uang kepada pemilih juga menambah biaya seorang calon kepada daerah (cakada) dalam ajang Pilkada. 

    "Pilkada berbiaya mahal juga diakibatkan adanya politik uang terhadap pemilih," ujarnya, Selasa (19/11).

    Hal itu ia lontarnya terkait dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian tentang tingginya biaya yang harus dikeluarkan calon kepala daerah (cakada) pada sistem Pilkada langsung.

    1. Kurnia ingatkan untuk pembenahan parpol

    Pilkada Serentak 2020

    Dengan adanya polemik tersebut, Kurnia memberikan usulan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk lakukan gebrakan reformasi pada partai politik (parpol) dibandingkan mengubah format pemilihan kepala daerah (Pilkada).

    "Pembenahan partai menjadi prasyarat utama sebelum mengubah model Pilkada," kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana seperti dikutip dari kantor berita Antara di Jakarta, Selasa (19/11).

    2. Inisiatif pembenahan partai sudah sering didorong oleh KPK

    caption

    Sebenarnya, kata Kurnia, inisiatif pembenahan partai secara kolektif sudah sering didorong oleh KPK dan masyarakat sipil. Tetapi, sejauh ini Kurnia tidak melihat ada respons atau tindak lanjut dari pemerintah.

    "Namun sejauh ini, belum ada respons konkret dari pemerintah untuk menindaklanjuti berbagai konsep pembenahan partai agar menjadi demokratis, modern dan akuntabel," katanya.

    3. Kurnia akui harus ada evaluasi dalam sistem Pilkada langsung

    Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian

    Kurnia menyetujui pemaparan Tito terkait evaluasi Pilkada. Menurutnya, evaluasi memang merupakan langkah penting untuk memetakan persoalan penyelenggaraan demokrasi lokal agar menjadi lebih berkualitas dari sisi penyelenggara, peserta hingga pemilih.

    "Namun wacana pemilihan kepala daerah menjadi tidak langsung merupakan kesimpulan prematur," ujarnya.

    Editorial Team

    Related Article

    artikel test breaking14 Jul 2026, 15:56 WIBNews
    Kota Surabaya
    jatim26 Mei 2026, 15:27 WIBNews