Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ibu Kota Baru di Kaltim, Wakapolri Pastikan Mabes Polri Pindah

Ibu Kota Baru di Kaltim, Wakapolri Pastikan Mabes Polri Pindah
(Wakapolri Komjen Pol Ari Dono) ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Jakarta, IDN Times - Presiden Joko "Jokowi" Widodo menetapkan Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara sebagai ibu kota baru pengganti DKI Jakarta.

Terkait hal itu, Wakil Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol Ari Dono Sukmanto mengatakan, pihaknya sudah merapatkan mengenai pemindahan satuan-satuan kerja mana saja yang nantinya akan bergeser ke Kalimantan Timur (Kaltim).

"Mabes Polrinya, pusat kegiatan administrasi dari kepolisian khususnya tentang strategi dan kebijakan, pasti bergeser ke sana (Kaltim)," katanya di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (27/8).

"Untuk pelayanan tetap sama seperti Polda-Polda. Hanya Mabes Polrinya saja kita pindah," sambungnya.

1. Kaltim layak jadi ibu kota dilihat dari segi keamanan

IDN Times/Axel Jo Harianja
IDN Times/Axel Jo Harianja

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, berdasarkan data keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) dari 34 kepolisian daerah (Polda), Polda Kaltim termasuk dalam kategori 10 Polda teraman di Tanah Air.

"Artinya bahwa Kalimantan Timur itu memang dari sudut pandang sisi keamanan, sudah layak sebagai ibu kota," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (26/8) kemarin.

2. Angka kejahatan di Kaltim termasuk yang terendah

IDN Times/Yuda Almerio
IDN Times/Yuda Almerio

Menurut Dedi, angka kejahatan di Kaltim termasuk rendah. Ia mencontohkan, kasus ancaman terorisme di Kaltim sebenarnya memang ada, namun ancaman itu tidak begitu besar.

"(Ancaman terorisme) tidak sebesar di Kalimantan Barat, kemudian di Jawa, dan beberapa wilayah Sumatera," kata dia.

Kendati, ada bentuk kejahatan yang paling menonjol di Kaltim, yakni kejahatan yang berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam (SDA). Namun kejahatan-kejahatan seperti itu masih bisa diatasi.

"Sumber daya alam (misalnya) tambang. Yang paling dominan ya tambang batu bara di sana," ujar dia.

3. Alasan ibu kota pindah ke Kaltim

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Jokowi menyebutkan lima alasan pemindahan ibu kota ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Pertama, lantaran Kalimantan Timur minim dari bencana, mulai dari banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, gunung berapi, dan tanah longsor.

"Kedua, lokasi yang strategis di tengah-tengah Indonesia. Ketiga, berdekatan dengan perkotaan yang sudah berkembang, yaitu Balikpapan dan Samarinda," ujar Jokowi di Istana Negara, Senin (26/8).

Alasan keempat, karena Kalimantan Timur memiliki infrastruktur yang lengkap. Terakhir, wilayah tersebut tersedia lahan yang luas milik pemerintah, yakni seluas 180.000 hektare.

Selain itu, Jokowi juga mengungkapkan alasan pemerintah melakukan pemindahan Ibu Kota Negara secara cepat. Menurut dia, Jakarta tidak bisa terus menerus menanggung beban.

"Jakarta dan Pulau Jawa semakin berat dalam kepadatan penduduk, kemacetan lalu lintas dan parah serta polusi dan air yang harus ditangani," katanya.

4. Anggaran pemindahan Ibu Kota Rp466 triliun

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Soal pendanaan, Presiden Jokowi mengatakan pembangunan ibu kota baru membutuhkan dana Rp466 triliun. Dari total dana tersebut, 19 persen diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Perlu kami sampaikan bahwa kebutuhan ibu kota baru Rp466 triliun, nantinya 19 persen dari APBN. Itu pun berasal dari skema kerja sama pengelolaan aset di DKI Jakarta, sisa nya dari KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) serta investasi langsung swasta dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara)," ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengatakan pembangunan ibu kota baru tidak akan mengganggu APBN.

Mantan Menteri Keuangan itu mengatakan, dalam lima tahun ke depan, kebutuhan investasinya mencapai Rp500 triliun. Dari jumlah itu, peran pembiayaan dari APBN sangat kecil jumlahnya.

"Di mana APBN perannya itu adalah sekitar Rp93 triliun," ujar Bambang.

Share
Topics
Editorial Team
Axel Joshua Harianja
EditorAxel Joshua Harianja
Follow Us

Latest in News

See More

Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS per Barel Imbas Konflik

09 Mar 2026, 11:24 WIBNews