Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Belanja Online Lebih Aman: 5 Cara Melindungi Data Pribadi

Belanja Online Lebih Aman: 5 Cara Melindungi Data Pribadi
Ilustrasi seseorang melakukan transaksi belanja online menggunakan kartu pembayaran. (Pexels/Negative Space)
  • Transaksi belanja online meningkatkan risiko pencurian data, penipuan, dan penyalahgunaan informasi; UU PDP menjamin perlindungan data serta mewajibkan penyelenggara sistem elektronik menjaganya.
  • Pengguna disarankan memakai kata sandi kuat dan berbeda tiap akun, mengaktifkan 2FA, serta merahasiakan OTP karena pihak resmi tidak memintanya melalui telepon, pesan, atau media sosial.
  • Keamanan juga dijaga dengan memakai platform resmi, menghindari tautan tak dikenal, dan rutin memeriksa aktivitas akun maupun transaksi agar penyalahgunaan cepat terdeteksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Belanja online telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, meningkatnya transaksi digital juga diikuti dengan ancaman pencurian data, penipuan, hingga penyalahgunaan informasi pribadi yang dapat merugikan konsumen.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), setiap orang berhak memperoleh perlindungan atas data pribadinya, sementara penyelenggara sistem elektronik wajib menjaga keamanan data yang mereka kelola. Kesadaran pengguna juga menjadi faktor penting untuk mencegah kebocoran data saat berbelanja secara daring.

  1. 1. Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun

    Gembok kombinasi berada di atas keyboard laptop dan kartu pembayaran, melambangkan keamanan akun serta transaksi digital.
    Ilustrasi gembok kombinasi di atas keyboard dan kartu pembayaran sebagai simbol keamanan akun digital. (Unsplash/Towfiqu Barbhuiya)

    Salah satu langkah paling sederhana adalah menggunakan kata sandi yang kuat. Hindari memakai kombinasi yang mudah ditebak, seperti tanggal lahir, nama sendiri, atau angka berurutan. Gunakan perpaduan huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol agar akun lebih sulit dibobol.

    Selain itu, jangan menggunakan kata sandi yang sama untuk beberapa akun. Jika satu akun berhasil diretas, akun lain yang menggunakan kata sandi serupa juga berisiko ikut diambil alih.

    "Satu akun, satu kata sandi" merupakan kebiasaan sederhana yang dapat mengurangi risiko pembobolan akun.

  2. 2. Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA)

    Ilustrasi fitur keamanan digital pada perangkat elektronik untuk melindungi data pribadi dan akses pengguna secara aman.
    Ilustrasi fitur keamanan digital pada perangkat elektronik. (Pexels/Pixabay)

    Autentikasi dua faktor atau Two-Factor Authentication (2FA) memberikan lapisan keamanan tambahan selain kata sandi. Saat fitur ini diaktifkan, pengguna harus memasukkan kode verifikasi yang dikirim ke perangkat atau aplikasi autentikator sebelum dapat masuk ke akun.

    Dengan adanya verifikasi tambahan, pelaku kejahatan akan lebih sulit mengakses akun meskipun telah mengetahui kata sandi pengguna. Langkah ini sangat disarankan untuk akun e-commerce, perbankan digital, maupun dompet elektronik.

  3. 3. Jangan pernah membagikan kode OTP

    Ilustrasi konsep keamanan digital yang menekankan kerahasiaan kode OTP untuk melindungi akun dan data pribadi pengguna.
    Ilustrasi konsep keamanan digital yang mengingatkan pentingnya menjaga kerahasiaan kode OTP demi melindungi akun dan data pribadi (pexels.com/Miguel Á. Padriñán)

    Kode One Time Password (OTP) bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk memverifikasi identitas pemilik akun. Kode ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai petugas marketplace, bank, atau layanan pelanggan.

    Berbagai kasus penipuan digital berawal dari korban yang secara sukarela memberikan kode OTP kepada pelaku. Karena itu, selalu ingat bahwa pihak resmi tidak akan pernah meminta OTP melalui telepon, pesan singkat, maupun media sosial. Jangan pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun!

  4. 4. Pastikan berbelanja di platform yang terpercaya

    Seseorang berbelanja di situs e-commerce menggunakan laptop dan kartu pembayaran untuk transaksi online.
    Ilustrasi seseorang berbelanja melalui situs e-commerce menggunakan laptop dan kartu pembayaran. (Pexels/Marcial Comeron)

    Sebelum melakukan transaksi, pastikan situs atau aplikasi yang digunakan berasal dari penyedia resmi. Periksa alamat situs, gunakan aplikasi yang diunduh dari toko aplikasi resmi, dan hindari mengklik tautan yang dikirim dari sumber yang tidak dikenal.

    Menurut berbagai panduan keamanan digital, penggunaan platform terpercaya dapat mengurangi risiko phishing, pencurian akun, maupun transaksi pada toko palsu yang dibuat untuk mengambil data pengguna.

  5. 5. Rutin memeriksa aktivitas akun dan transaksi

    Seseorang memeriksa layanan keuangan digital di tablet sambil memegang kartu pembayaran di atas meja.
    Ilustrasi seseorang memeriksa layanan keuangan digital menggunakan tablet dan kartu pembayaran. (Pexels/Tima Miroshnichenko)

    Setelah melakukan pembelian, biasakan memeriksa riwayat transaksi secara berkala. Jika terdapat aktivitas yang tidak dikenali, segera ubah kata sandi dan hubungi penyedia layanan agar akun dapat diamankan.

    Kebiasaan sederhana ini membantu pengguna mendeteksi penyalahgunaan akun lebih cepat sehingga kerugian dapat diminimalkan. Selain menjaga kata sandi, kewaspadaan terhadap aktivitas akun juga menjadi bagian penting dari perlindungan data pribadi.

Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More