Bayangkan kalau anak-anak Gen Z tiba-tiba pindah ke Kampung Durian Runtuh. Tidak ada kafe estetik di setiap sudut, belum tentu ada coworking space, dan mungkin sinyal internet pun tidak selalu bisa diandalkan. Tetapi, di sisi lain, ada halaman untuk nongkrong, tetangga yang saling kenal, teman yang bisa ditemui tanpa harus membuat janji berminggu-minggu, serta banyak aktivitas sederhana yang tidak membutuhkan biaya besar.
Awalnya mungkin terasa seperti culture shock. Setelah terbiasa, justru bukan tidak mungkin Gen Z menemukan sesuatu yang selama ini sulit dicari di kehidupan modern: komunitas yang terasa dekat. Lalu apa jadinya kalau mereka tinggal di Kampung Durian Runtuh?
