Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kalau Gen Z Tinggal di Kampung Durian Runtuh, Kira-kira Bakal Ngapain?
Ilustrasi seseorang memeriksa layanan keuangan digital menggunakan tablet dan kartu pembayaran. (Pexels/Tima Miroshnichenko)

Bayangkan kalau anak-anak Gen Z tiba-tiba pindah ke Kampung Durian Runtuh. Tidak ada kafe estetik di setiap sudut, belum tentu ada coworking space, dan mungkin sinyal internet pun tidak selalu bisa diandalkan. Tetapi, di sisi lain, ada halaman untuk nongkrong, tetangga yang saling kenal, teman yang bisa ditemui tanpa harus membuat janji berminggu-minggu, serta banyak aktivitas sederhana yang tidak membutuhkan biaya besar.

Awalnya mungkin terasa seperti culture shock. Setelah terbiasa, justru bukan tidak mungkin Gen Z menemukan sesuatu yang selama ini sulit dicari di kehidupan modern: komunitas yang terasa dekat. Lalu apa jadinya kalau mereka tinggal di Kampung Durian Runtuh?

1. Bikin konten: “Sehari Jadi Anak Kampung”

Kalau Gen Z tinggal di Kampung Durian Runtuh, kemungkinan besar kamera smartphone tetap ikut ke mana-mana. Bedanya, kontennya mungkin bukan lagi tentang kafe terbaru atau weekend getaway, melainkan “sehari jadi anak kampung”, tutorial bikin makanan sederhana, vlog ikut kegiatan warga, sampai video lucu ketika nongkrong bareng teman-teman.

Ini bukan berarti Gen Z harus meninggalkan dunia digital. Justru kemampuan membuat konten bisa menjadi cara untuk mendokumentasikan kehidupan komunitas. Kampung yang awalnya dianggap biasa saja bisa menjadi menarik ketika dilihat melalui perspektif kreatif. Aktivitas seperti memasak bersama, bermain di halaman, berkebun, atau ikut kerja bakti dapat dikemas menjadi konten yang menghibur sekaligus memperkenalkan kehidupan bertetangga.

2. Bikin nongkrong hemat ala third place

Kalau tidak ada coffee shop, Gen Z kemungkinan akan menciptakan versi third place-nya sendiri. Bisa berupa teras rumah, balai warga, halaman, warung, atau tempat sederhana lain yang menjadi titik berkumpul setelah sekolah dan bekerja. Tidak perlu interior mahal; yang penting ada tempat duduk, obrolan, dan orang-orang yang datang secara rutin.

"Third place, yakni ruang publik yang menawarkan interaksi sosial dan ikatan komunitas-dapat mendorong respons yang adaptif melalui mekanisme yang saling membentuk (yaitu, saling memperkuat dan saling terkait) antara rasa kebersamaan secara psikologis dan modal sosial," kata Danielle M. Littman, peneliti bidang psikologi komunitas dikutip dari Community Psychology.

Kalau konsep ini diterapkan di Kampung Durian Runtuh, teras rumah atau warung bisa berubah menjadi tempat yang punya fungsi lebih besar daripada sekadar tempat nongkrong. Di sana Gen Z bisa mengerjakan tugas, ngobrol soal pekerjaan, bertukar rekomendasi, bermain game, membuat proyek kecil, atau sekadar mengeluh tentang hidup.

3. Bikin side hustle dari potensi kampung

Gen Z mungkin tidak akan tinggal diam melihat potensi ekonomi di sekitar mereka. Ada yang bisa membuka jasa desain, membuat akun media sosial kampung, menjual makanan, membuat hampers, membantu UMKM, menjual produk kerajinan, atau bahkan membuat konten wisata tentang Kampung Durian Runtuh.

Teknologi tetap digunakan, tetapi bukan sekadar untuk scrolling. Ada anak muda yang mengurus pemasaran digital, ada yang mengelola keuangan, ada yang membuat foto produk, dan ada yang mengurus produksi. Kalau dilakukan bersama, pekerjaan bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga memperkuat hubungan antarpenghuni.

Topics

Editorial Team

Related Article

artikelPublish-w9g806 Agu 2026, 14:33 WIB
artikelPublish-qj1c27 Jul 2026, 15:21 WIB
artikelPublish-r1f622 Jul 2026, 16:53 WIB
artikelPublish-hrh922 Jul 2026, 16:51 WIB
artikelPublish-6f2821 Jul 2026, 16:05 WIB
Pemandangan yang bagus21 Jul 2026, 09:52 WIB
Artikel breaking baru17 Jul 2026, 11:09 WIB
Ini artikel commercial02 Jul 2026, 15:59 WIB