Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Untukmu Kota Yogyakarta, Dari Perantau yang Menyimpan Rindu

"Yogyakarta adalah kota sederhana penuh makna yang selalu membuatku bertanya, kapan ya bisa kembali ke sana?"

Membicarakan kota mungil ini seolah tidak memiliki ujungnya. Walau langkah kaki sudah membawaku pergi hingga ratusan kilometer, tapi ada puluhan atau mungkin ribuan cerita yang memanggilku kembali. Kisah tentang perjuangan meraih gelar sarjana, menemukan keluarga baru, sampai pelajaran hidup membuat pesona kota ini tidak pernah redup. Bersama cerita yang pernah ada, izinkan orang yang pernah tinggal dikotamu ini mengenangnya.

Kota Yogyakarta selalu menghadirkan kisah tersendiri bagi siapa saja yang pernah tinggal di sana. Kehangatan dan kenyamanannya selalu membuatku setuju jika kota ini diberi gelar 'istimewa'.

"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu"

Tidak sulit rasanya menemukan alasan mengapa Yogyakarta hingga sekarang kini menyandang gelar istimewa. Di setiap sisinya, hampir dipastikan kamu akan menemukan berbagai kehangatan yang ada. Bagi siapa saja yang pernah datang dan tinggal di sini, Yogyakarta bukan hanya sebuah kota biasa. Ada ribuan memori yang membuat para perantau yang pernah tinggal di sana sulit melupakan cerita.

Pertemuan dengan teman-teman seperjuangan, kehangatan penduduk yang menentramkan, serta suasana kota ini selalu sukses membangun rindu di dalam dada. Bahkan setelah meninggalkan Yogyakarta, potongan-potongan kenangannya selalu berhasil membangun memori masa lalu yang pernah ada.

Aku jelas tidak akan lupa bagaimana pertama kali datang ke kota ini dan merasa asing dengan suasana di dalamnya. Tapi herannya hal tersebut tak berlangsung lama, keramahan masyarakat sekitar membuatku merasa diterima segera. Tak butuh waktu panjang sampai akhirnya aku menemukan keluarga baru. Kota ini tidak hanya menawarkan tempat bagi pendatangnya tapi juga kehangatan serupa daerah asal.

Pedagang kaki lima serta angkringan adalah teman setia akhir bulan kalangan mahasiswa. Mungkin hanya Yogyakarta yang bisa membuat siswa berkantung seadanya makan kenyang walau kiriman belum tiba.

Tidak hanya dihuni oleh penduduk ramah nan menyenangkan, harga makanan di kota ini juga membuat perantau yang datang terbelalak heran. Bahkan hanya dengan mengantungi uang sepuluh ribu saja, kami para mahasiswa sudah bisa makan tenang. Walau hanya dengan nasi telur atau menu angkringan, perut kami bisa terisi penuh meski kiriman belum datang.

Situasi tersebut seolah mengatakan bahwa siapapun kamu tidak perlu khawatir akan kehabisan uang dan kelaparan. Kota dengan segala keistimewaannya ini menegaskan bahwa Yogyakarta tidak hanya menerima mereka yang beruang tapi juga yang berkantung pas-pasan. Mungkin hanya di sini pula seorang mahasiswa yang sudah habis uang bulannya bisa tertawa riang sambil menikmati kopi joss di pinggir jalan.

Yogyakarta jelas tidak hadir menawarkan gemerlap kota. Namun berbagai hiburan jalanannya sudah cukup menghibur kami dari penat kegiatan harian.

Berbeda dengan kota lain yang ramai dengan mall dan pusat perbelanjaan, Yogyakarta justru menyediakan hiburan berupa sajian musisi jalanan. Di sepanjang jalanan Malioboro misalnya, penduduk dapat menyaksikan pemusik yang memainkan instrumen dengan skill mumpuni yang menghibur hati.

Walau sajian tersebut terkesan sederhana namun terbukti cukup ampuh menghilangkan rasa jenuh setelah menjalani aktivitas harian. Hanya dengan duduk di pinggir jalan dan membeli sepotong makanan kecil kita sudah bisa menikmati hiburan yang menyenangkan. Yogyakarta terbukti spesial tidak hanya karena sajian murahnya tapi juga hiburan yang bisa dijangkau siapa saja.

Tapi yang paling penting kota ini adalah saksi setia banyak mahasiswa yang berjuang meraih gelar sarjana. Untuk semua penerimaannya, terima kasih untuk kebaikannya Yogyakarta.

Keistimewaan Yogyakarta lagi-lagi tidak hanya terletak pada sajian murah dan hiburan jalanannya saja. Kota ini sesungguhnya adalah saksi bisu dari banyaknya perjuangan mahasiswa meraih gelar sarjana. Di sudut kotanya adalah saksi kantuk mahasiswa yang harus terjaga sepanjang malam demi merampungkan tugas kuliah. Kafe mungilnya juga menjadi pendamping hangat bagaimana orang berjibaku menyelesaikan tugas sepanjang malam.

Untuk semua kebaikan dan penerimaan yang telah didapatkan izinkanku mengantarkan rasa terima kasih pada kota yang tidak pernah pudar keistimewaannya. 

Editorial Team