Menurut Sains, Semakin Tua Kita Akan Cenderung Lebih Tepat Waktu

Berhadapan dengan orang yang doyan ngaret, memang menyebalkan. Namun, secara tak sadar bisa jadi kita juga sering terlambat saat datang ke suatu acara atau janjian dengan seseorang. Ada banyak faktor mengapa seseorang cenderung suka datang telat. Menurut sains, umur ternyata juga menentukan lho!
Antara orang tua dan anak muda, siapa sih yang lebih akurat memprediksi waktu?

Sebuah eksperimen dilakukan oleh Washington University untuk melihat keakuratan prediksi waktu antara orang tua dan orang muda. Sebanyak 36 mahasiswa dan 34 lansia dengan usia antara 60 sampai 80 tahun, diminta menyelesaikan suatu kuis dengan durasi waktu tertentu.
Kuis dilaksanakan dalam waktu 11 menit dengan kondisi lingkungan yang sengaja diciptakan dalam dua keadaan, yaitu dengan background musik dan yang satunya lagi, sunyi. Para peserta tidak diberikan akses untuk melihat jam dalam bentuk apapun. Hasilnya? Para lansia mampu menyelesaikan kuis tepat waktu atau mendekati waktu yang diberikan, ketimbang orang-orang muda.
Memprediksi waktu lebih akurat berkat time-based prospective memory (TBPM).

Kemampuan seseorang untuk memprediksi waktu dinamakan time-based prospective memory (TBPM). Ini adalah cara otak merespon dan memperkirakan waktu secara mental, sekalipun tanpa alat bantu seperti jam. Hal ini juga sering disebut ‘internal clock’ alias jam mental.
Orang-orang tua cenderung mengabaikan suara dan hal-hal yang merusak konsentrasi, termasuk dengan melihat jam. Mereka tidak ingin menambah ‘pekerjaan’ di otak dengan hal-hal yang mendistraksi pikirannya. Sementara anak muda lebih mudah terdistraksi oleh suara di sekitarnya.
Jadi, sekalipun semakin bertambah usia, jam mental kita semestinya semakin terasah, tetapi lebih baik berjaga-jaga dengan mengandalkan bantuan eksternal, seperti jam, jadwal atau alarm. Nah, kalau sudah bertambah umur dan dibantu alat untuk memperkirakan waktu, jangan telat lagi ya!

















