Selama masa pemerintahannya, Sukarno selalu berusaha untuk menyatukan berbagai agama dan etnis yang tersebar di Indonesia. Namun secara ekonomi, bagaimanapun, Indonesia sedang menderita.
Pada tahun 1965, inflasi di Indonesia mencapai 650 persen. Banyak orang yang mati kelaparan, kekurangan beras meluas, laba dari ekspor menjadi rendah, dan infrastruktur fisik Indonesia masih sangat buruk. Selain itu, dilaporkan bahwa 75 persen dari anggaran negara sedang dipompa untuk kebutuhan militer.
Menanggapi hal tersebut, popularitas dan keanggotaan Partai Komunis Indonesia (PKI) pun tumbuh secara eksponensial. Pada tahun 1965 saja, PKI menampung tiga setengah juta orang Indonesia, menjadikannya partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Partai Komunis Soviet dan Tiongkok.
Konsensus umum adalah bahwa PKI akan mengambil kendali negara lewat pemilihan berikutnya. Namun mereka tidak pernah bisa melakukan hal itu, karena konflik di dalam militer sendiri sedang memanas dan akan memuncak pada akhir September tahun itu.
Pada tanggal 30 September 1965, sekelompok konspirator militer yang dikenal sebagai "Gerakan 30 September," yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung dari Pasukan Pengawal Presiden, berhasil menculik enam jenderal militer berpangkat tinggi. Keesokan paginya, semua jenderal tersebut, kecuali A.H. Nasution, ditemukan tewas.
Lokasi-lokasi penting di sekitar Jakarta, termasuk istana presiden dan stasiun radio nasional berhasil dikuasai selama percobaan kudeta tersebut. Namun setelah mereka membuat deklarasi lewat radio dan niat mereka mulai diketahui, kudeta ini pun segera berakhir.
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Jenderal Soeharto, berhasil mengambil alih ibukota, dan kudeta — yang sering mengacu kepada PKI sebagai pelaku utama — dinyatakan gagal. Semuanya terlihat sudah selesai, walau yang terjadi selanjutnya adalah salah satu genosida terburuk yang pernah terjadi di abad ke-20.
Berdasarkan dokumen dari Time, setelah Sukarno dilengserkan dan Soeharto naik ke atas panggung politik Indonesia, sekitar 500.000 anggota dan simpatisan PKI diburu dan dibunuh, sedangkan satu juta orang lainnya dipenjara atau diasingkan.
Sampai saat ini, PKI masih menjadi organisasi yang dilarang, bersamaan dengan paham komunisme atau Marxisme-Leninisme dan stigma "kiri" lainnya yang masih menjadi momok bagi masyarakat Indonesia.
Nah, itu tadi 8 kudeta terkenal di abad ke-20 gagal yang gagal secara dramatis. Ternyata kudeta tidak semudah seperti yang digambarkan dalam karya fiksi. Beberapa kudeta yang sukses berhasil membuat sejarah baru (Revolusi Oktober 1917), sedangkan lainnya berakhir dengan kegagalan dan kematian.