Catatan Sejarah juga menceritakan adanya sebuah tradisi para pembesar Kerajaan Jawa di masa lalu yang bernama Rampogan Macan, sebuah pertunjukkan adu Harimau yang turut menyebabkan berkurangnya secara cepat populasi Harimau Jawa.
Seperti pertunjukkan spektakuler di arena Gladiator Kolosseum Roma di masa lalu, Rampogan macan menggunakan hewan buas seperti Harimau, Macan Tutul, dan Macan Kumbang untuk diadu dengan binatang lain seperti kerbau atau dengan manusia yang bersenjatakan tombak. Pada akhirnya Harimau atau Macan Tutul akan dibunuh secara beramai-ramai dengan puluhan tombak yang dihujamkan ke tubuhnya.
Dalam artikel karya Danu Damarjati dengan judul "Rampogan Sima, tradisi membantai macan di Tanah Jawa", Rampogan Sima merupakan pertunjukan yang melibatkan masyarakat banyak dan pertunjukan ini sudah ada sejak zaman dulu. Sebagian menyebut bahwa tradisi ini telah ada sejak zaman Singasari. Namun sebagian lagi menyebut pertunjukkan itu baru ada sejak abad ke-17 di Jawa.
Lebih lanjut, dalam buku "Bakda Mawi Rampog" Karya R. Kartawibawa sebagaimana yang dikutip oleh artikel tersebut, Kartawibawa menggunakan istilah "sima" atau juga macan loreng untuk merujuk pada kucing besar ini atau menambahkan keterangan untuk jenis macan yang lain.
Istilah ngrampog sima sebagaimana dituturkan oleh R. Kartawibawa bermakna beramai-ramai rebutan membunuh Harimau atau kucing besar lainnya dengan tombak. Pertunjukan ini terdapat di wilayah Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta dan kawasan Jawa Timur. Pertunjukkan tersebut biasanya dilakukan bertepatan dengan hari besar.
Dari foto yang menggambarkan acara Rampogan Macan tersebut terlihat bahwa pertunjukan dilakukan di sebuah alun-alun besar. Para pria mengelilingi alun-alun tersebut sambil memegang tombak panjang, setelah harimau dikeluarkan dari kandangnya, harimau akan dipaksa untuk menerjang barikade orang-orang yang membawa tombak tersebut.
Saat itulah tombak-tombak akan dihujamkan ke tubuh satwa legendaris tanah Jawa tersebut. Ada pula sesi yang mengadu harimau dengan kerbau, apa pun hasil pertarungan itu harimau dipastikan juga akan dibunuh beramai-ramai.
Tradisi Rampogan Macan telah menyebabkan perburuan kucing-kucing besar Tanah Jawa seperti: Harimau loreng, macan tutul dan macan kumbang untuk dikorbankan dalam acara tersebut. Khususnya Harimau Jawa populasinya langsung menyusut secara drastis akibat perburuan untuk digunakan dalam acara Rampogan Macan tersebut.
Harimau Jawa menjadi langka sampai tidak terlihat lagi saat ini. Hanya tinggal satu kucing besar Tanah Jawa yang masih bertahan hingga saat ini yaitu Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) yang juga sudah dinyatakan sebagai satwa langka dan dilindungi saat ini.