Di sebuah sekolah di pusat kota Bangkok, orang tua datang lebih awal untuk menjemput anak-anak mereka. Para siswa mengatakan mereka tahu tentang risiko yang ditimbulkan oleh partikel-partikel polutan berbahaya, yang dikenal sebagai PM 2.5.
"Saya menggunakan masker ke mana pun saya pergi," kata Chaiwawut Benpalee yang berusia 12 tahun.
"Itu tidak akan memengaruhi kita sekarang, tapi itu akan terjadi di masa depan." tambahnya seperti dilansir Bangkok Post.
Sementara itu belum diketahui dengan jelas seberapa efektif yang akan diberikan skala kabut asap yang menyelubungi kota. Air Visual, monitor independen indeks kualitas udara online (AQI), pada hari Rabu (30/01) mematok Bangkok pada level 171 "tidak sehat", naik dari 156 pertengahan bulan.
"Ini krisis kesehatan masyarakat," kata Tara Buakamsri, Direktur Negara Greenpeace untuk Thailand.
Pengukuran partikulat berbahaya tersebut lebih tinggi daripada beberapa kota di Cina tetapi jauh di bawah ibukota India, New Delhi.
Siwatt Pongpiachan, seorang Profesor ilmu lingkungan di National Institute of Development Administration (NIDA), mengatakan bahwa sementara iklim kering yang dingin adalah bagian dari masalah. Pemerintah harus "berpikir serius" tentang langkah-langkah kemacetan yang membatasi jumlah mobil di jalan.