Seorang pria Muslim mengendarai skuter saat polisi melakukan pawai bendera di luar Masjid Jama, sebelum putusan Mahkamah Agung tentang sengketa tempat relijius yang diklaim oleh umat Hindu dan Muslim di Ayodhya, di kota tua Delhi, India, pada 9 November 2019. ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi
Universitas tempat Khan mengajar pun sempat menegaskan tidak akan tunduk kepada tuntutan mereka yang menolaknya. Dalam sebuah pernyataan, kampus menyatakan pemilihan Khan sudah tidak bisa diganggu gugat dan merupakan bagian dari "pemberian kesempatan setara kepada setiap orang tanpa peduli agama, kasta, komunitas atau jenis kelamin" mereka.
Salah satu anggota panel yang menyeleksi Khan, Profesor Radhavallabh Tripathi, mengatakan berkali-kali bahwa dirinya dipilih karena paling memenuhi persyaratan.
"Dia sudah berlatih 'pathshala padhyati' yang merupakan cara tradisional dalam mengajar Sansekerta," kata Tripathi kepada NDTV.
"Penolakan itu karena ada kepentingan tersembunyi dan tidak seharusnya diperbolehkan terjadi," tambahnya. Vikas Singh, mahasiswa PhD Ilmu Politik, menuturkan kepada Indian Express bahwa para penolak Khan tidak mewakili mahasiswa BHU, terutama karena jumlah mereka sedikit.
"Sebuah pesan yang salah telah keluar bahwa semua pelajar di BHU menolak Firoze Khan. 10 sampai 20 mahasiswa tidak mewakili BHU dan ini yang ingin kami katakan kepada orang-orang."