Kebakaran Amazon: Brazil Nyatakan Bersedia Terima Bantuan Asing

Rio de Janeiro, IDN Times - Pemerintah Brazil akhirnya mengatakan bersedia untuk menerima bantuan asing guna menanggulangi kebakaran masif yang terjadi di hutan Amazon pada Selasa (27/8). Akan tetapi, pemerintah memberikan persyaratan bahwa ini bisa terjadi hanya kalau Brazil berhak menetapkan aturan pemakaiannya.
Seperti dilaporkan CNN, Amazon, salah satu hutan paling penting di dunia, mengalami kebakaran parah pada minggu lalu. Brazil bahkan mengumumkan status darurat karena tingkat kebakaran tahun ini meningkat 83 persen dibandingkan pada 2018.
1. Sejumlah kepala daerah mengatakan kepada Presiden soal kesulitan dana

Juru bicara Presiden Bolsonaro, Rego Barros, menyampaikan sikap pemerintah tersebut kepada wartawan di Brazil. "Pemerintah Brazil, melalui Presiden, terbuka untuk menerima dukungan finansial dari organisasi dan negara lain. Uang tersebut, begitu masuk ke negara ini, akan diurus sepenuhnya oleh orang Brazil," kata Barros, seperti dilansir Reuters.
Pernyataan ini muncul setelah sejumlah gubernur mengadu kepada Bolsonaro bahwa mereka membutuhkan uang untuk mengatasi kebakaran yang terjadi di Amazon. Kobaran api di Amazon menjadi perhatian para pemimpin dunia setelah pengguna internet mengunggah informasi tentang kebakaran di media sosial.
2. Negara G7 menawarkan bantuan senilai Rp285 miliar

Dalam KTT G7 yang berlangsung pada 24-26 Agustus kemarin Prancis, Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Kanada dan Italia menawarkan bantuan sebesar Rp285 miliar untuk keperluan menangani kebakaran Amazon kepada Brazil.
Namun, Bolsonaro dilaporkan menolak tawaran tersebut setelah merasa mendapat penghinaan dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Ia mengatakan baru akan menerimanya setelah Macron menarik "hinaan" tersebut. Kedua pemimpin negara berseteru secara verbal dalam beberapa hari terakhir.
3. Bolsonaro mencemooh istri Macron yang kemudian dibalas oleh si presiden

Macron, yang juga mendapat kritik dari warganya sendiri terkait kebijakan perubahan iklim, menyebut kebakaran Amazon sebagai "krisis internasional". Dikutip dari BBC, publik menyalahkan Bolsonaro dan retorika anti-lingkungan hidupnya sebagai penyebab kebakaran. Tidak terima, Bolsonaro menuding Macron mempunyai "mental kolonial".
Seorang pendukung Bolsonaro mengunggah komentar di media sosial yang membandingkan istri kepala negara Brazil itu dengan Brigitte Macron. Komentar itu ditanggapi Bolsonaro dengan menuliskan,"Jangan permalukan [dia]... ha ha."
Macron kemudian ikut terpancing dengan berkata bahwa perempuan Brazil "mungkin merasa malu" punya Bolsonaro sebagai seorang Presiden. "Dia mengatakan hal yang sangat tidak terhormat tentang istri saya. Saya sangat menghargai masyarakat Brazil dan hanya berharap mereka secepatnya punya presiden yang mampu bekerja," kata Macron.
4. Trump sempat mendukung sikap Bolsonaro yang menolak bantuan

Ketika mengetahui Bolsonaro menolak tawaran bantuan dari G7, reaksi sebagian besar publik adalah rasa kecewa. Seorang Gubernur di negara bagian Maranhao, Flávio Dino, menuturkan kepada media bahwa "ini bukan saatnya menolak uang" sebab Amazon perlu segera ditangani dan pemerintah Brazil kekurangan dana.
Tetapi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru mendukung sikap Bolsonaro. "Saya mengenal Presiden @jairbolsonaro dengan baik melalui kerja sama kita dengan Brazil," tulis Trump lewat Twitter.
"Dia bekerja sangat keras perihal kebakaran Amazon dan dengan segala hormat melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk masyarakat Brazil -- tidak mudah. Dia dan negaranya mendapat dukungan penuh dan menyeluruh dari Amerika Serikat," tambahnya
5. Bolsonaro awalnya menuding LSM sebagai dalang kebakaran

Di awal kebakaran pada pertengahan Agustus ini, Bolsonaro menuduh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai dalangnya. Tanpa bukti apa pun, ia menyebut itu dilakukan sebagai upaya balas dendam karena pemerintah memangkas dana untuk mereka. Meski sudah terekam kamera, ia kemudian menyangkal pernah mengeluarkan tuduhan tersebut.
Direktur Program Amazon Watch, Christian Poirier, menjelaskan kepada CNN bahwa pembakaran hutan kerap dilakukan untuk membuka lahan pertanian atau peternakan. Oleh karena itu, manusia punya peran dalam peristiwa menyedihkan ini. Selain itu, Amazon merupakan hutan basah dan lembab.
Akan tetapi, bulan Juli dan Agustus ini menjadi musim paling kering di kawasan Amerika Latin sehingga kebakaran sangat mudah terjadi. Dalam rilis resmi, Greenpeace menyampaikan penilaian mereka sendiri.
"Sebagai tambahan dari peningkatan emisi, deforestasi berkontribusi secara langsung terhadap perubahan pola curah hujan di kawasan yang terdampak, memperpanjang durasi musim kering, sehingga semakin memengaruhi hutan, keanekaragaman hayati, pertanian dan kesehatan manusia."