Ilmuwan Tiongkok Bisa Mengubah Cuaca Cerah Jadi Hujan!

Ketika cuacanya gerah dan matahari bersinar dengan teriknya di luar sana, kamu pasti membayangkan adanya tetesan air turun dari langit bukan? Impianmu itu akan diwujudkan oleh ilmuwan asal Tiongkok. Ya, proyek besar telah mulai dilaksanakan di ibu kota Beijing.
Proyek ini diperuntukan untuk menghasilkan peluru yang bisa mengubah cuaca dalam waktu singkat. Jadi ketika di luar sana terik matahari menyengat, dengan sekali tembakan, cuaca akan berubah jadi hujan.
Tiongkok dikabarkan gelontorkan dana lebih dari 380 miliar rupiah!

Peluru yang diproduksi akan berisi garam dan mineral. Campuran dua zat tersebut dianggap ampuh untuk membuat langit 'menangis'. Bagaimana cara kerjanya? Seperti dilansir Express, ilmuwan tersebut akan menembakkan peluru berisi campuran zat tersebut di langit. Peluru itu akan meledak dan membuat langit dan awan jadi lembab.
Bahkan di negara yang memiliki kemarau panjang pun bisa diselesaikan dengan hal ini. Nah, ketika peluru meledak, maka partikel dari zat-zat tersebut akan bercampur dengan udara. Kemudian, zat tersebut akan mengeras dan membentuk awan gelap. Ketika awan tersebut semakin besar dan berat, gesekan akan sebabkan gemuruh petir. Tahap akhir adalah hujan dari awan hitam tersebut.
Proses ini diharapkan akan mengubah 'jadwal' cuaca dan mempercepat datangnya hujan. Atau dengan kata lain mereka bisa mengatur kapan harus hujan dan kapan tidak. Belum diketahui berapa lama hujan akan bertahan lama dari satu peluru. Proyek ini dikabarkan menelan biaya 22 juta poundsterling atau setara 380 miliar rupiah.
Tiongkok tidak sendiri dalam membuat teknologi ini.

Amerika, Tiongkok serta 51 negara lainnya dikabarkan juga menjadi bagian dari proyek besar ini. Nantinya, setelah selesai, peluru akan disebarkan ke penjuru dunia. Proyek yang dimulai akhir Juli ini dikabarkan akan selesai akhir tahun ini. Namun, para ahli yang ditunjuk berbagai negara inginkan proses ini semakin cepat terwujud.
Akan tetapi, menurut ahli atmosfer dari Universitas Wyoming, Amerika, Bart Geerts mengatakan kalau cara ini bisa 50 persen berhasil, meskipun dirinya tidak optimis. Bart mengaku kalau sistem ini bisa saja gagal bila zat yang ditembakkan tidak dalam jumlah yang tepat. Maka, menurut Bart, belum saatnya untuk 'menjadi Tuhan'.
Tiongkok juga dikabarkan telah memiliki rencana lain setelah proyek hujan ini. Mereka ingin membentuk salju jatuh. Meski begitu, Bart mengaku masih ragu akan kepastian teknologi tersebut. Nah, menurutmu apakah teknologi ini berguna? Maukah kamu kalau teknologi ini masuk Indonesia?

.png)

















