Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Youtube/VTC1
Youtube/VTC1

Hanoi, IDN Times - Howard X, pria yang menjadi Kim Jong-un palsu, dideportasi dari Vietnam pada Senin (25/2). Laki-laki asal Hong Kong tersebut sudah jadi perhatian otoritas di Hanoi jelang pertemuan antara Donald Trump dan Kim selama beberapa hari terakhir. Sedangkan Trump palsu, Russell White, dinyatakan tetap boleh tinggal di Hanoi. 

Seperti dilaporkan AP, polisi tidak menyukai ulah keduanya yang berjalan-jalan keliling kota dengan pura-pura dijaga sekuriti dan membuat keramaian di ruang publik. Masyarakat yang bertemu mereka memotret, merekam dan meminta selfie.

1. Polisi mengancam mendeportasi keduanya pada minggu lalu

Default Image IDN

Pada Jumat lalu (22/2), kepolisian Hanoi membawa Howard X dan White untuk diinterogasi. Keduanya berada di kota tersebut untuk melakukan "pertemuan palsu" layaknya Kim dan Trump asli yang akan berjumpa pada 27-28 Februari.

Saat itu juga polisi memberitahu Howard X dan White bahwa otoritas berwenang akan "menendang" mereka dari Vietnam jika meneruskan aksi tersebut. "Pada dasarnya mereka berkata kami harus menghentikan impersonasi atau akan menendang kami dari negara ini," ujar Howard X kepada AFP.

2. Alasan deportasi adalah visa Howard X yang disebut "tidak valid"

Youtube/VTC1

Sementara itu, Howard X saat ini dilaporkan sudah berada di bandara Hanoi untuk kembali ke Hong Kong. Ia mengatakan kepada para reporter yang menantinya bahwa polisi menyebut alasan dirinya dideportasi adalah visanya "tak valid". Hanya saja, polisi tak memberi keterangan lebih lanjut.

Tapi, Howard X punya teori lain. "Alasan sebenarnya adalah aku terlahir dengan sebuah wajah yang mirip Kim Jong-un. Ini kejahatan sebenarnya," ucapnya, seperti dilansir dari The Guardian.

3. Howard X menyebut Kim "tak punya selera humor"

YouTube/VTC1

Ia melanjutkan, alasan utamanya adalah karena Kim tak memahami apa yang sedang dilakukannya sehingga merasa tersinggung. Menurutnya, Kim "tak punya selera humor". Selain itu, Howard X menilai, tiket pesawatnya kembali ke Hong Kong jauh lebih murah dibandingkan dari Hanoi ke Kanada--negara asal White.

"Satir adalah senjata yang sangat kuat melawan diktator. Mereka takut pada beberapa laki-laki yang tampak seperti hal nyata," tambah Howard X. Ia sendiri masih mengenakan pakaian ala diktator ketika berada di bandara yaitu setelan mirip yang dipakai Mao Zedong.

4. Aktivis HAM menilai keputusan polisi mendeportasi Howard X itu "absurd"

YouTube/VTC1

Menanggapi ini, wakil direktur Human Rights Watch di Asia, Phil Robertson, mengatakan dalam sebuah cuitan bahwa langkah polisi untuk mendeportasi Howard X "sangat absurd dan penuh kebencian". Ia melanjutkan,"Pelanggaran hak yang ia hadapi hanya menunjukkan betapa represifnya Vietnam."

Sebelum Howard X pergi, White sendiri masih sempat bergurau dengan menirukan slogan politik yang kerap dilontarkan Trump. "Kami berada di sini untuk membuat politik hebat lagi," kata White yang kemudian dilanjutkan dengan gestur selamat tinggal kepada rekannya itu.

5. Ini bukan pertama kalinya Howard X berpura-pura jadi Kim

ANTARA FOTO/REUTERS/Edgar Su

Howard X sendiri pernah berada di Singapura pada tahun lalu ketika Kim dan Trump bertemu untuk pertama kalinya. Ia mengaku bahwa masuk ke Singapura itu tidak mudah. Otoritas Bandara Changi sempat menahan dan menginterogasinya ketika ia baru mendarat.

Selain ditahan dan diinterogasi, Howard juga mengatakan bahwa otoritas Singapura melarangnya untuk berada di sekitar lokasi pertemuan Trump dan Kim di Sentosa Island dan Hotel Shangri-La. Ia sendiri tidak menjelaskan mengapa ia mendapatkan larangan tersebut.

Editorial Team