Joshua Wong ketika dibebaskan dari penjara pada 17 Juni 2019 setelah menjalani satu bulan hukuman. ANTARA FOTO/REUTERS/Tyrone Siu
Joshua Wong, pemuda 22 tahun yang menjadi salah satu tokoh demonstrasi Hong Kong sejak 2014, menilai unjuk rasa besar-besaran selama seminggu terakhir adalah hal yang wajar dan Lam merupakan penyebabnya. Usai dibebaskan dari dua bulan kurungan karena didakwa melakukan penghinaan terhadap pengadilan, Wong diwawancarai oleh The Guardian.
Menurutnya, permintaan maaf Lam tidak ada gunanya. "Bagi protes yang diikuti dua juta orang, semua yang ia katakan adalah penyesalan, tapi dia benar-benar tidak mengacuhkan opini publik. Dia bahkan tak bisa berjanji takkan menghidupkan kembali RUU itu di masa pemerintahannya," kata Wong.
Ia juga menilai bahwa Lam "sesungguhnya sudah memobilisasi masyarakat untuk turun ke jalan dan mempermalukan [Presiden Cina] Xi Jinping" menjelang pertemuan G20 yang akan diselenggarakan pada 28 dan 29 Juni di Jepang.
Wong sendiri menyebut dengan status Hong Kong yang semi-otonom, tanpa demokrasi, protes-protes seperti seminggu kemarin adalah "pencapaian simbolik, jika bukan kemenangan total" bagi warga yang ingin lepas dari cengkeraman Beijing.