AS Batalkan Penjualan 26 Ribu Senapan ke Filipina, Sang Presiden Marah Besar!

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengecam tindakan Amerika Serikat yang menghentikan rencana penjualan 26 ribu senapan ke negaranya. Presiden yang beberapa kali blak-blakan mengucapkan kata-kata kasar kepada Obama itu kembali mengatakan para pengambil keputusan AS itu bodoh dan dia menyebut mereka monyet.
Dikutip Philippine Star, (3/11), dengan pemutusan kesepakatan senjata itu, Duterte mengatakan mungkin akan beralih menggunakan senjata Rusia atau Tiongkok. Duterte mengirimkan pesan jelas kepada AS setelah muncul laporan yang menyebutkan adanya potensi pemblokiran penjualan senjata untuk Filipina.

Menurut Duterte, ini adalah ancaman pada Amerika yang mengatakan tidak akan menjual senjata mereka ke Filipina. Duterte pun akan beralih pada Rusia. Tidak hanya merasa kesal, dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, Duterte juga mengatakan bahwa dia kehilangan rasa hormat untuk Washington DC.
"Lihatlah monyet-monyet ini, padahal kami ingin membeli 26.000 senapan dan mereka (AS) tidak mau menjualnya," Begitulah ucapan dari ujar presiden ke-16 Filipina itu.
Duterte akan bertanya kepada militernya apakah butuh senjata dari AS?

Menurut penjelasan Duterte, pihak Rusia dan Tiongkok telah menawarkan untuk menjual senjata kepadanya. Namun presiden kontroversial itu mengatakan bahwa dia ingin melihat terlebih dulu apakah militernya masih ingin menggunakan senjata AS atau tidak.
Namun yang terjadi tak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Menurut Duterte, AS menjadi kasar pada Filipina.

Pembatalan penjualan senapan itu terjadi setelah Senator AS Ben Cardin mengatakan bahwa dia akan menentang keputusan tersebut. Petinggi Demokrat di U.S. Senate Foreign Relations Committee itu bimbang memberikan senjata kepada Filipina berhubung dengan adanya pelanggaran HAM dalam perang brutal narkoba yang sedang berlangsung di negara itu.
Sementara itu juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby, mengatakan dia dilarang mengomentari status penjualan. Namun dia menekankan bahwa aliansi antara Negara Paman Sam dan Filipina itu penting.
Apakah Amerika Serikat marah karena Duterte hina Obama?

Bulan lalu, Obama membatalkan pertemuan dengan Duterte, setelah presiden itu mengatakan suami Michelle Obama itu 'son of a whore'. Duterte kemudian menyampaikan penyesalan atas omongannya tersebut.
Pembatalan tersebut merupakan jawaban Amerika yang tidak mendukung kebijakan Presiden Duterte dalam pemberantasan narkoba. Dikabarkan lebih dari 2.000 orang tewas selama perang terhadap narkoba di Filipina, yang dimulai pada akhir Juni 2016.



















