ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer
Sebagai salah satu diktator terlama di Afrika, rekam jejak al-Bashir penuh pertumpahan darah. Sejak mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 1989, ia selalu memenangi Pemilu yang tak pernah demokratis. Krisis terbesar yang terjadi di bawah pemerintahannya terjadi di Darfur dan mencapai puncaknya pada 2004.
Dalam laporannya, PBB menyebut ada sekitar 1,65 juta warga Darfur menjadi pengungsi lokal dan lebih dari 200.000 lainnya melarikan diri ke negara tetangga, Chad. al-Bashir melakukan kejahatan HAM di Darfur dengan mendukung milisi Janjaweed untuk melakukan pembakaran desa-desa, pembunuhan, dan pemerkosaan. Lebih dari 15.000 nyawa warga melayang sebagai hasilnya.
Demonstrasi pada akhir 2018 direspons al-Bashir dengan ganas. Amnesty International melaporkan pemerintah menggunakan kekuatan berlebihan hingga membuat setidaknya 45 orang meninggal. Demi membatasi pergerakan rakyat, ia memerintahkan otoritas keamanan Sudan untuk melakukan penangkapan dan penggeledahan.