Lokasi yang akan dikembangkan menjadi ibu kota negara di kawasan Sepaku, Penajam Paser Utara (IDN Times/Mela Hapsari)
Kota ini (Penajam) adalah kota masa depan, 50-100 tahun yang insyaallah saya masih sempat bisa melihat. Tapi yang pasti untuk generasi millennial yang mendengarkan ini.
Kami mendapat masukan banyak dari para menteri dan warga negara lainnya. Satu kota ini harus smart, semua dengan IT (Teknologi Informasi) segala macam. Kemudian tetap environment tetap kita jaga, karena kita di Kalimantan, persepsi masyarakat pasti hutan. Tapi kalau di sana pasti akan lebih terjaga. Sekarang ini tidak terjaga dengan baik, mungkin. Di sana kita mungkin lebih baik menjaganya, termasuk menjaga kekayaan alam kita di sana.
Smart city ini kita tidak ingin hanya memindahkan pemerintahan saja. Ada masukan, kalau hanya memindahkan pemerintahnya, ngapain ke Kalimantan? Sangat mahal dan pasti tidak produktif. Sehingga kita harus cara inovasi lain. Jadi kita cari cara lain. Oh, berarti harus bisa menarik tidak talenta-talenta nasional saja, tetapi juga world top talent. Itu salah satu indikatornya mereka mau tinggal di sana. Sekarang ini ASEAN, orang tinggal di Singapura.
Kalau world top talent bukan untuk mencari uang, tidak hanya gaji dan pendapatan tinggi, tapi keluarganya harus bisa terjamin fasilitas pendidikan, kesehatan harus yang bertahap internasional. Lingkungan kota harus bagus, baru kita mau tinggal. Makanya di dalam TOR (Terms of reference) harus ada working distance, jadi semua bisa dicapai dengan jalan kaki. Orang nyaman jalan kaki atau bersepeda atau public transport. Kira-kira begitu.
(Mal tidak tahu akan ada atau tidak), itu millennial yang tahu. Nah ke depan kayak apa? 50 tahun? Silakan masukannya di sayembaraikn.pu.go.id, itu di situ. Sehingga salah satu tagline-nya kota masa depan kiat ini harus toleransi, karena masyarakat kita tidak pindah di ruang kosong.
Harus tolerance, top talent dan teknologi. Sehingga tidak hanya memindahkan pemerintahan, tapi juga ada manufaktur. Manufaktur apa yang cocok untuk teknologi itu sehingga environment masih bagus. Jadi itu sayembara ini kita lakukan.
Kelihatannya hadiahnya besar Rp5 miliar, tapi itu untuk lima hadiah. Hadiah pertama Rp2 miliar, kedua Rp1,250 miliar, ketiga Rp1 miliar. Baru yang lainnya Rp750 juta dan Rp250 juta. Bayangkan dengan Rp5 miliar kita bisa lima alternatif desain. Atau dengan Rp4 miliar bisa dapat tiga terbaik. Itu kalau dikontrakan dengan konsultan jauh lebih mahal dan hanya dapat satu alternatif desain.