Jakarta, IDN Times - "Wadah Pegawai KPK ini apa sih? Kok sampe berani gugat pimpinannya ke pengadilan gara-gara gak terima dirotasi?" Demikian pertanyaan ayah saya saat membaca pemberitaan soal pegawai KPK yang memilih untuk menggugat kelima pimpinannya sendiri ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), akhir tahun lalu.
Pertanyaan itu mewakili tanda tanya publik ketika melihat nama Wadah Pegawai (WP) KPK kerap berseliweran di pemberitaan kini. Organisasi serikat pekerja KPK itu mulai mendapat sorotan ketika mereka menggugat putusan pimpinan ke PTUN.
Peristiwa yang terjadi 22 September 2018 tersebut pertama kali terjadi di lembaga antirasuah. Hal itu bermula dari keluarnya Surat Keputusan nomor 1426 tahun 2018 yang berisi rotasi terhadap 15 pegawai setara eselon II dan III.
Menurut WP, rotasi dan mutasi dilakukan oleh pimpinan jilid IV tanpa dasar dan parameter yang jelas tentang mengapa ke-15 orang itu harus dipindah ke posisi yang baru. Apabila dibiarkan, mereka menilai, hal tersebut bisa melemahkan KPK dari dalam.
Nyatanya, selama gugatan itu bergulir di PTUN, pimpinan dan pegawai institusi antirasuah yang berselisih "dipaksa" untuk tetap bekerja secara profesional. Tanpa ada rasa baper, mereka tetap bekerja memberantas korupsi. Bahkan, saat menutup 2018, KPK berhasil menciptakan rekor baru yakni mereka berhasil menggelar 31 Operasi Tangkap Tangan (OTT).
Nama organisasi itu kembali menjadi buah bibir, ketika terjadi proses pelantikan 24 penyidik baru. Akhir April lalu, penyidik dari unsur kepolisian menuding WP sebagai biang keladi kebijakan itu muncul.
Apalagi, Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif mengeluarkan memo yang isinya menyetujui pelantikan tersebut dan agar penyidik lembaga antirasuah lebih banyak direkrut secara internal. Hal itu jelas membuat penyidik dari unsur kepolisian geram. Mereka kemudian melayangkan surat setebal 8 halaman sebagai bentuk protes kepada Ketua KPK, Agus Rahardjo.
Nama WP sendiri sesungguhnya sudah mulai dikenal ketika Novel Baswedan duduk sebagai ketua pada 2016-2018. Ironinya, saat ia berjuang agar pegawai KPK sejahtera, Novel justru disiram dengan cairan asam sulfat di wajahnya. Publik lebih fokus kepada Novel ketimbang organisasi internal yang ia pimpin.
Kini, di bawah kepemimpinan Yudi Purnomo, WP KPK turut memberi advokasi agar kasus teror terhadap Novel tak dilupakan dan diungkap siapa pelakunya. Sejak Yudi menjadi Ketua WP pula, organisasi itu tidak hanya jago kandang tetapi mulai menjalin jejaring keluar. Wajahnya pun makin sering muncul di televisi.
Oleh sebagian orang, Yudi dinilai sedang cari panggung dan popularitas. Namun, dalam wawancara khusus yang dilakukan bersama IDN Times pada Jumat (12/7) lalu, ia membantahnya.
"Gak ada lah. Kepikiran juga gak (niat cari popularitas)! Ngapain juga cari-cari begitu," kata pria yang sudah bekerja di institusi antirasuah itu selama 13 tahun.
Kini WP disebut-sebut sebagai organisasi yang begitu berkuasa dan sanggup menyetir keputusan pimpinan. Benar kah demikian? Simak obrolan IDN Times dengan Yudi berikut:
