Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Times/Axel Jo Harianja
IDN Times/Axel Jo Harianja

Jakarta, IDN Times - Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Lampung yang ditangkap di beberapa lokasi, salah satunya di Bekasi, merupakan kelompok teroris yang terstruktur.

Sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri menangkap tiga terduga teroris JAD Lampung pada sabtu (4/5)di tiga lokasi berbeda yakni SL, 34 dan AN, 20 di Bekasi dan MC, 28 di Tegal Timur, Jawa Tengah.

"SL kelompok jaringan JAD Lampung adalah bentuk jaringan terorisme terstruktur. Ada juga jaringan teroris yang sifatnya lone wolf, tidak terstruktur. Dia Bisa terpapar melalui paham-paham yang disebar di medsos dan proaktif mengikuti alur-alur komunikasi di media sosial dan membaiat diri ikut ke dalam kelompok jaringan," jelas Dedi dalam Konferensi Pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (6/5).

1. Jaringan teroris yang terstruktur berarti sangat kuat

IDN Times/Axel Jo Harianja

SL yang merupakan leader dari kelompok itu adalah jaringan terorisme yang terstruktur. Hal itu berarti, kelompok SL sangatlah kuat. Mereka, kata Dedi, sudah dimonitor sejak 2014 dan berbaiat pada JAD Indonesia yang dipimpin Komandan Abdul Rahman. Pada November 2015, SL mengikuti pertemuan jaringan JAD di Malang, Jawa Timur. Misi pertama pertemuan tersebut adalah melakukan aksi terorisme di Jakarta.

"Kemudian, terjadilah peristiwa 14 januari 2016 bom Thamrin. Dari situ, dia melarikan diri dengan kelompoknya. Demikian, di tahun 2017, terjadi kerusuhan di Mako Brimob LP terorisme. Kelompk SL ini dari Lampung turun ke Jakarta untuk melakukan aksi amaliyah juga," ungkap Dedi.

2. SL juga menggerakkan kerusuhan di Mako Brimob

IDN Times/Axel Jo Harianja

Dedi kemudian menceritakan, beberapa kelompok tersebut berhasil ditangkap oleh aparat Densus 88. Dari hasil pemeriksaan tersangka yang ditangkap di sekitar Mako Brimob, yang menggerakan kerusuhan di lapas tersebut adalah SL.

"Kemudian mereka berpencar, SL bersama kelompoknya lari ke Papua. Lalu, dia melakukan latihan di Papua, kemudian dia membentuk 2 sel. Kelompok yang pertama menuju ke Bekasi pada awal 2019 ini. Kelompok kedua akan bergabung ke poso," Kata Dedi.

3. Kronologi penangkapan Teroris JAD Lampung

(Ilustrasi) (IDN Times/Sukma Shakti)

Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Densus 88, diketahui bahwa dua tersangka pada Kamis (2/5) lalu, berhasil ditangkap terduga teroris atas nama RH dan M. "RH akan bergabung ke Poso, kelompok di Indonesia Timur yang digerakkan Ali Kalora. Tapi, yang bersangkutan berhasil ditangkap di Bitung, Sulawesi Utara pada saat perjalanan mau berangkat naik kapal dari Bitung menuju ke poso," Katanya.

"Nah, dari dua kelompok tersebut, terus dilakukan pengembangan pemeriksaan oleh Densus 88. Kemudian pada Sabtu dan minggu, ada upaya penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88," Sambung Dedi.

Dedi melanjutkan, dari hasil pengembangan dua tersangka yang ditangkap di Bitung, Densus 88 menangkap tersangka lagi di Bekasi atas nama AH alias Abah pada Sabtu(4/5) lalu. AH kata Dedi memiliki peran menyembunyikan DPO SL dan ikut membantu membuat bom triacetone triperoxide (TATP).

"(TATP) ini merupakan salah satu komponen jenis bom yang high eksplosif. Apabila digabung, dia hampir sama jenis bomnya ini dengan bom yang digunakan pada saat serangan bom di Surabaya di 3 Gereja maupun di Mapolerstabes Surabaya," terang Dedi.

Dari hasil penangkapan AH, Densus 88 menyita beberapa barang bukti seperti handphone serta beberapa barang bukti yang akan digunakan untuk merakit bom. Kemudian, polisi menangkap satu tersangka lainnya atas nama MC di Tegal Timur. Barang bukti yang disita seprti tas selempang, beberapa uang, dan foto-foto. MC kata Dedi juga termasuk ikut dalam membuat bom.

Dalam pemeriksaan lanjutan terhadap 3 pelaku tersebut, Densus 88 kembali menangkap 3 orang tersangka lainnya pada Minggu(5/5). "Pertama atas nama MI, dia anggota JAD Jakarta, sama dia perannya membuat bahan peledak dengan menggunakan bahan TATP bersama SL dan menyembunyikan SL, dan juga menyembunyikan DPO IF alias Samuel dan T," jelas Dedi.

Dedi mengatakan, saat akan ditangkap oleh Densus 88, T melakukan perlawanan dengan melempar bom. Sehingga, Densus 88 melakukan tindakan dengan melumpuhkan yang bersangkutan. "Yang bersangkutan tertembak dan bomnya meledak. Sehingga T meninggal di tempat," kata Dedi.

Untuk DPO IF alias Samuel, lanjut Dedi, dia memiliki kemampuan merakit bom yang lebih senior dibandingkan dengan SL. "SL itu untuk leadernya, tapi untuk Samuel ini dia jauh memiliki kemampuan merakit bom dibanding SL. Dia yang membuat bom dengan bahan TATP bersama SL, T dan AH," ucap Dedi.

4. Total 8 orang Teroris JAD Lampung yang telah diamankan

(Ilustrasi) IDN Times/Sukma Shakti

Hingga saat ini, lanjut Dedi, Densus 88 telah mengamankan delapan orang terduga teroris JAD Lampung dan masih terus dilakukan pengejaran dengan anggota-anggota lainnya.

"Yang ditangkap totalnya ada delapan orang. Enam orang ditangkap pada 4 dan 5 Mei 2019. Sebelumnya ada ada dua orang yang ditangkap di Bitung pada 2 Mei. Masih ada beberapa orang lagi yang masih dikejar oleh Densus 88," tutup Dedi.

Editorial Team