(Ilustrasi) (IDN Times/Sukma Shakti)
Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Densus 88, diketahui bahwa dua tersangka pada Kamis (2/5) lalu, berhasil ditangkap terduga teroris atas nama RH dan M. "RH akan bergabung ke Poso, kelompok di Indonesia Timur yang digerakkan Ali Kalora. Tapi, yang bersangkutan berhasil ditangkap di Bitung, Sulawesi Utara pada saat perjalanan mau berangkat naik kapal dari Bitung menuju ke poso," Katanya.
"Nah, dari dua kelompok tersebut, terus dilakukan pengembangan pemeriksaan oleh Densus 88. Kemudian pada Sabtu dan minggu, ada upaya penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88," Sambung Dedi.
Dedi melanjutkan, dari hasil pengembangan dua tersangka yang ditangkap di Bitung, Densus 88 menangkap tersangka lagi di Bekasi atas nama AH alias Abah pada Sabtu(4/5) lalu. AH kata Dedi memiliki peran menyembunyikan DPO SL dan ikut membantu membuat bom triacetone triperoxide (TATP).
"(TATP) ini merupakan salah satu komponen jenis bom yang high eksplosif. Apabila digabung, dia hampir sama jenis bomnya ini dengan bom yang digunakan pada saat serangan bom di Surabaya di 3 Gereja maupun di Mapolerstabes Surabaya," terang Dedi.
Dari hasil penangkapan AH, Densus 88 menyita beberapa barang bukti seperti handphone serta beberapa barang bukti yang akan digunakan untuk merakit bom. Kemudian, polisi menangkap satu tersangka lainnya atas nama MC di Tegal Timur. Barang bukti yang disita seprti tas selempang, beberapa uang, dan foto-foto. MC kata Dedi juga termasuk ikut dalam membuat bom.
Dalam pemeriksaan lanjutan terhadap 3 pelaku tersebut, Densus 88 kembali menangkap 3 orang tersangka lainnya pada Minggu(5/5). "Pertama atas nama MI, dia anggota JAD Jakarta, sama dia perannya membuat bahan peledak dengan menggunakan bahan TATP bersama SL dan menyembunyikan SL, dan juga menyembunyikan DPO IF alias Samuel dan T," jelas Dedi.
Dedi mengatakan, saat akan ditangkap oleh Densus 88, T melakukan perlawanan dengan melempar bom. Sehingga, Densus 88 melakukan tindakan dengan melumpuhkan yang bersangkutan. "Yang bersangkutan tertembak dan bomnya meledak. Sehingga T meninggal di tempat," kata Dedi.
Untuk DPO IF alias Samuel, lanjut Dedi, dia memiliki kemampuan merakit bom yang lebih senior dibandingkan dengan SL. "SL itu untuk leadernya, tapi untuk Samuel ini dia jauh memiliki kemampuan merakit bom dibanding SL. Dia yang membuat bom dengan bahan TATP bersama SL, T dan AH," ucap Dedi.