Menpar Arief Yahya menyebutkan gangguan digital terjadi di industri 3T, yakni telekomunikasi, transportasi, dan turisme. Karena industri pariwisata, cepat atau lambat akan menghadapi perubahan yang revolusioner, sehingga industri pariwisata harus mengikuti perubahan.
“Revolusi teknologi digital ini tidak bisa dihindari, pasti terjadi. Secara alamiah akan mengubah dunia, menciptakan model bisnis baru, jadi pelaku industri yang tidak mau berubah dengan platform digital, pasti akan ditinggalkan customer,” jelas Menpar Arief Yahya.
Pria asal Banyuwangi ini mencontohkan, di transportasi terjadi ketika bertemu dengan digital, seperti Grab, Gojek dan Uber. Dengan munculnya digital transportation, harga pasar langsung berubah total, harga drop drastis.
Begitupun di telekomunikasi, semakin murah, semakin gratis, akan semakin untung. Karena itu WhatsApp (WA), Google, Baidu, Line mengirimkan pesan gratis, tidak berbayar.
Sementara, revolusi ketiga adalah tourism. Ini yang paling diwanti-wanti Arief Yahya agar industri pariwisata Indonesia waspada. Menurutnya, bila travel agent tidak bisa mengikuti perubahan zaman, dikhawatirkan akan bernasib sama seperti warung telekomunikasi (wartel), terbunuh dengan sendirinya.
"Travel agent konvensional akan sulit bersaing dengan online travel agent, seperti Traveloka, Booking.com, TripAdvisor, Ctrip, dan lainnya," sebutnya.