Terpilihnya Setya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar mengundang spekulasi bahwa perebutan kursi ketua umum dalam Munaslub di Nusa Dua, Bali, kemarin, hanya sebagai bentuk perpanjangan tangan Aburizal Bakrie atau Ical. Dilansir CNN Indonesia, hal tersebut diungkapkan langsung oleh Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.
Selain itu dipilihnya Idrus Marham sebagai Sekretaris Jenderal, Nurdin Halid sebagai Ketua Harian dan Joppy Kardinal sebagai Bendahara Umum juga jadi indikator spekulasi tersebut. Idrus sendiri merupakan tangan kanan Ical saat mertua Nia Ramadhani tersebut jadi ketua umum. Terlihat jelas bahwa aroma Ical kental saat ketiga orang tersebut berada dalam posisi penting partai. Pasalnya, segala aturan dan kebijakan partai juga nantinya akan ditandatangani oleh ketua umum dan sekjen.
Spekulasi ini berkembang bukan tanpa alasan. Yunarto menuturkan bahwa publik mengetahui Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan keputusan yang menyebutkan bahwa kepengurusan Munas Bali yang dipimpin oleh Ical sah sampai 2019. Akan tetapi, Ical akhirnya tetap memilih menggelar Munaslub untuk menunjukkan kebesaran hatinya.
Beberapa hal juga yang semakin membenarkan spekulasi publik tersebut yakni saat Setya Novanto mendapatkan dukungan penuh dari Ical. Selain itu dia juga didukung langsung oleh Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan yang merupakan sahabatnya selama ini.
