Jakarta, IDN Times - Menginjak usia yang ke-70 tahun, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kontemplasinya berbagi pengalamannya menjadi saksi hidup dari tiga penggal sejarah yang berbeda.
Era Presiden Sukarno, Soeharto, hingga era reformasi, SBY juga berbagi pandangan tentang harapannya untuk Indonesia dari sisi profesi dan pengabdiannya selama 20 tahun menjadi warga sipil, 30 tahun menjadi prajurit dan perwira militer, dan 15 tahun mengabdi di jajaran pemerintahan, baik sebagai menteri maupun presiden.
“Lima tahun terakhir ini saya kembali ke pangkuan masyarakat sipil,” kata SBY dalam acara memperingati HUT ke-18 Partai Demokrat, hari lahir SBY dan 100 hari kepergian Ani Yudhoyono di Pendopo Puri Cikeas, Bogor, Senin (9/9).
Dari pengalamannya itu, SBY ingin memiliki dan menjadi masyarakat yang baik, ‘A Good Society’ dan menjadi bangsa yang ‘A Good Nation, A Good Country’.
Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa masyarakat dan bangsa Indonesia amat majemuk. Majemuk dari segi identitas, misalnya berbeda agama, suku, etnis dan kedaerahan. Juga mejemuk dari segi paham dan aliran, baik politik maupun ideologi,
serta dari segi strata sosial-ekonomi.
“Sejarah menunjukkan, bahwa kemajemukan ini di satu sisi adalah anugerah kekayaan dan kekuatan Namun, di sisi lain adalah kerawanan, sumber konflik dan juga kelemahan,” ucap dia.
Dari situ, SBY sebut tak ada resep ajaib untuk menjaga persatuan dan kerukunan. Kecuali secara sadar memperkuat dia nilai fundamental dan kemudian menjalankannya dengan sungguh-sungguh.
“Pertama adalah kasih sayang (love) di antara kita, dan bukan kebencian (hatred). Kedua adalah rasa persaudaraan (brotherhood) yang kuat di antara kita, sesama bangsa Indonesia, dan bukan membangun jarak dan permusuhan (hostility) di antara masyarakat yang berbeda identitas,” ujarnya.
“Terus terang, tahun-tahun terakhir ini kasih sayang dan rasa persaudaraan ini melemah, sementara kebencian, jarak dan permusuhan di antara komponen bangsa yang berbeda identias menguat,” sambungnya.
SBY pun mengajak masyarakat untuk mengambil tanggung jawab menghentikan dan membalikkan fenomena dan arus yang salah ini, untuk selanjutnya kembali ke arah yang benar.
