Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

PMVG Pasang 2 Alat Deteksi Gempa di Gunung Anak Krakatau

Jakarta, IDN Times - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasang dua alat pendeteksi di Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi pada 22 Desember 2018.

"Saat aktivitas Gunung Anak Krakatau turun, petugas kami memasang alat pendeteksi gempa dan pendeteksi bentuk atau deformasi yang telah selesai sejak Sabtu (9/3) kemarin," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kasbani, Senin (25/3).

1. Alat deteksi rusak akibat erupsi Gunung Anak Krakatau

ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Kasbani mengungkapkan alat pendeteksi gempa yang sebelumnya dipasang di sekitar Gunung Anak Krakatau rusak diterjang erupsi pada 22 Desember 2018.

"Saat erupsi kami hanya bisa mendeteksi dari alat yang terpasang di Pulau Sertung," ujar dia.

2. Alat deteksi gempa sering hilang

IDN Times/Dini suciatiningrum
IDN Times/Dini suciatiningrum

Selain itu, Kasbani mengingatkan pada masyarakat agar menjaga alat deteksi gempa yang sudah dipasang kembali oleh PMVG. Dia mengungkapkan alat deteksi gempa sering kali hilang atau diambil oknum tidak bertanggung jawab.

"Secara spesifik alat tersebut yakni seismik untuk mengukur detak jantung dan kedua untuk mengukur deformasi atau mengukur kembang kempis gunung, jadi dua alat itu adalah mata buat kita, jangan diambil dan jangan lagi ada pencurian karena alat tersebut," kata dia.

3. Status Gunung Anak Krakatau menurun

wikipedia.org
wikipedia.org

Untuk diketahui, mulai 25 Maret 2019 pukul 12.00 WIB, PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan status Gunung Anak Krakatau dari level III atau Siaga menjadi level II atau Waspada.

"Dari hasil pengamatan dan analisis yang sudah kami lakukan, mulai pukul 12.00 kami turun kan status Gunung Anak Krakatau dari level III ke level II," ujar Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar di gedung Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Rudy mengungkapkan dari hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga 25 Maret 2019, aktivitas Gunung Anak Krakatau cenderung menurun walau pun berfluktuasi kecil.

"Potensi erupsi masih ada, namun dengan intensitas yang kecil dibandingkan periode erupsi Desember 2018 dan sebaran material hasil erupsi yang membahayakan hanya tersebar pada radius 2 kilometer (km) dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau," tutur dia.

4. Radius 2 kilometer masih berbahaya

Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau

Lebih lanjut, Rudy menjelaskan, pasca-erupsi intensif pada Juni 2018 hingga Januari 2019, secara visual Gunung Anak Krakatau, sesekali mengeluarkan letusan asap putih uap air dengan tinggi kolom asap maksimal mencapai 1.000 meter di atas puncak.

"Pengamatan energi tremor cenderung menurun walau pun berfluktuatif serta tidak memperlihatkan indikasi deformasi yang signifikan pada tubuh gunung api," ujar dia.

Kendati, Rudy meningatkan, meski aktivitas Gunung Anak Krakatau turun, masyaraka atau wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau, yaitu di dalam Pulau Gunung Anak Krakatau.

"Masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 2 km dari kawah aktif," kata dia.

Share
Topics
Editorial Team
Dini Suciatiningrum
EditorDini Suciatiningrum
Follow Us

Latest in News

See More

Gempa Hari Ini 27/12/2025 bermagnitudo 5.8 di ENGGANO-BENGKULU

27 Des 2025, 08:15 WIBNews
gallery keenam

Artikel revised [edit LAGI]

25 Nov 2025, 15:15 WIBNews