Jakarta, IDN Times - Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris mengkritik hasil pemilu presiden 2019 yang justru malah menghasilkan demokrasi yang tak sehat. Sebab, dua kandidat Presiden yang saling berseteru selama satu tahun terakhir, ujung-ujungnya malah berkoalisi.
Ketika ditawari kursi Menteri, Ketua Umum Partai Gerindra dan capres 2019,Prabowo Subianto malah menerimanya. Tidak tanggung-tanggung kursi yang diberikan adalah Menteri Pertahanan.
Syamsuddin justru bingung untuk apa Joko "Jokowi" Widodo mengajak Prabowo bergabung masuk ke dalam koalisi partai pendukungnya.
"Makanya, ada kompetisi di pemilu presiden. Yang keluar sebagai pemenang berkuasa, sedangkan yang kalah ya legowo menjadi opisisi. Itu seharusnya demokrasi kita yang sehat, bukan kemudian semuanya diajak masuk (jadi koalisi)," kata Syamsuddin dalam dialog dengan tema "Mencermati Kabinet Jokowi Jilid II" di kafe di area Cikini, Jakarta Pusat pada Selasa (22/10).
Ia mengatakan apabila semua lawan saat kontestasi pemilu dibawa masuk, maka model negara kekeluargaan yang dicita-citakan oleh Soepomo pada tahun 1945 bisa terealisasi. Hal itu bisa mengancam demokrasi di Indonesia.
Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh publik agar demokrasi di pascareformasi tak dibawa mundur ke era Orde Baru?
