Jakarta, IDN Times - Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indo Barometer, Muhammad Qadari menilai pembentukan kabinet di kepemimpinan Presiden Joko "Jokowi" Widodo periode kedua sarat dengan kepentingan yang lebih luas. Dua di antaranya agar bisa memenangkan pilpres 2024 dan supaya memuluskan rencana untuk mengamandemen UUD 1945.
Itu sebabnya ia mengaku tidak terlalu terkejut apabila melihat PDI Perjuangan dan Partai Gerindra akhirnya berkoalisi usai berkompetisi di pemilu April lalu. Apalagi bila dilihat lebih jauh PDI Perjuangan dan Gerindra ibarat sepupu.
"Mereka memiliki retorika yang sama, di mana salah satu fokusnya mengenai pangan, programnya pun sama. Bahkan, baju yang dikenakan oleh Prabowo terinspirasi dari Bung Karno yang notabene ayah dari Megawati," kata Qadari memberikan analisanya di program Indonesia Lawyer's Club (ILC) yang tayang di stasiun tvOne pada Selasa (22/10).
Selain itu, bukan kali pertama juga PDI Perjuangan dan Gerindra berkoalisi. Peristiwa serupa kata dia sudah pernah terjadi pada pemilu 2009 dan 2004 lalu.
Pada 16 Mei 2009, Megawati berpasangan dengan Prabowo sebagai capres dan cawapres. Keduanya, kompak mendaftar ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU). Selain Mega-Prabowo, ketika itu ada pula dua pasangan lainnya yakni Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan Jusuf Kalla-Wiranto.
Apabila ditelusuri lagi ke belakang, maka Prabwo masih berada di Partai Golkar pada pemilu 2004 lalu. Namun, parpol itu mendukung pasangan Megawati yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi.
Lalu, apabila kedua partai itu berkoalisi apakah tujuan mereka di tahun 2024 bisa tercapai? Berikut analisa Qadari.
