Jakarta, IDN Times - Sorotan tajam kini tengah diarahkan kepada PDI Perjuangan yang salah satu kadernya tengah menjadi buruan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kader yang dimaksud adalah Harun Masiku yang dijadikan tersangka perkara suap eks komisioner KPU, Wahyu Setiawan pada Kamis (9/1) lalu.
Keberadannya kini masih misterius dan terakhir disebut berada di Singapura sejak (6/1). Akar masalah operasi senyap terhadap Wahyu bermula karena PDI Perjuangan ingin mengganti anggota legislatif terpilih, Riezky Aprilia dengan Harun Masiku.
Namun yang memicu tanda tanya perolehan suara Harun jauh di bawah Riezky. Harun hanya memperoleh sekitar 5.000 an suara. Sedangkan, Riezky memperoleh sekitar 44 ribu suara. Riezky ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggantikan Nazarudin Kiemas, yang meninggal pada Maret 2019 lalu.
Namun, PDI Perjuangan terkesan ngotot ingin mengganti Nazarudin dengan Harun. Pertanyaan pun muncul mengapa PDI Perjuangan lebih memilih Harun dan bukan Riezky yang perolehan suaranya jauh lebih besar.
"Ini kan sesungguhnya permasalahan yang digali sendiri oleh partai politik dengan memilih menggantinya dengan Harun Masiku," ujar peneliti dari organisasi Indonesia Corruption Watch (ICW), Donal Fariz ketika berbicara di program Indonesia Lawyer's Club pada Selasa malam (14/1).
Anehnya, kata Donal, ketika ia disandingkan dengan politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu, ia justru mengaku tak kenal dengan Harun.
"Bagi saya ini justru terasa ajaib," kata Donal lagi.
Wah, kenapa ya PDI Perjuangan begitu ngotot ingin mengganti Riezky dengan Harun?
