Merri yang sejak 1990-an sudah menjadi buruh migran di Taiwan mengatakan kalau awalnya dia dipaksa oleh sang suami bekerja di luar negeri. Setelah dua tahun berlalu, Merri mengetahui kalau suaminya ternyata tidak memanfaatkan uang yang dikirimnya dengan baik. Selama Merri membanting tulang, suaminya justru berfoya-foya, berjudi dan minum miras. Bahkan suaminya tersebut malah main serong dengan perempuan lain.
Setiap kembali ke Indonesia, Merri juga selalu menerima perlakuan kasar. Pada usia 25 tahun, dia memutuskan untuk bercerai, namun tetap bekerja di Taiwan untuk menghidupi dua anaknya.
Lalu pada 2001, dia bertemu dengan Jerry saat mengurus dokumen kerja di Sarinah, Jakarta. Jerry mengaku sebagai warga negara Kanada dan memiliki bisnis dagang di Indonesia. Berangkat dari pertemuan tersebut, keduanya kemudian menjalin hubungan asmara selama tiga bulan. Menurut pengakuan Merri, Jerry adalah sosok yang mesra dan romantis. Akhirnya, pada 16 Oktober 2001, mereka sepakat untuk melancong ke Nepal.
Keanehan muncul saat Merri yang janjian bertemu dengan Jerry di Thailand. Akhirnya, mereka bertemu di Nepal dan berlibur selama 3 hari. Jerry kemudian pamit duluan ke Jakarta pada 20 Oktober 2001 dengan dalih mengurus bisnis. Dia kemudian meminta Merri untuk tetap tinggal di Nepal karena ada barang yang hendak diberikan.
Barang tersebut diserahkan sepekan kemudian lewat dua teman Jerry, Muhammad dan Badru. Merri sempat bertanya mengapa tas tersebut berat. Keduanya berkilah kalau tas itu terbuat dari kulit asli yang berkualitas bagus dan kuat. Belakangan diketahui kalau di bagian dalamnya telah disisipi heroin seberat 1,1 kilogram.
Setelahnya, pada 31 Oktober 2001, Merri kembali ke Indonesia lewat Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selama penerbangan, dia membawa tas tangan pemberian itu di dalam kabin.
Dia juga sudah sempat meninggalkan bandara dan hampir menaiki taksi. Saat teringat kalau kopernya tertinggal. Namun Merri senang sekali, karena kata Jerry kalau kembali ke Jakarta dia akan dinikahi.
Merri masuk kembali ke bandara untuk mengambil kopernya di bagian Lost & Found. Namun, saat hendak keluar, petugas meminta supaya tas tangannya dipindai di mesin X-ray. Karena merasa tidak menyembunyikan barang terlarang, Merri menyerahkan tasnya. Dari situlah terungkap keberadaan heroin. Karena panik, dia pun segera menghubungi Jerry dan teman-temannya. Namun, hasilnya nihil.