Program pembangunan jalur kereta api trans Sumatera dari provinsi Aceh hingga Lampung telah dimulai sejak hari Kamis, 8 Oktober lalu. Jalur kereta api yang akan menghubungkan berbagai provinsi di Sumatera ini direncanakan akan rampung pada 2020 mendatang. Hal itu menandakan warga Sumatera juga bisa menikmati transportasi publik via kereta api layaknya warga di pulau Jawa.
Dilansir Tribun Jateng, Ignasius Jonan mengatakan bahwa jalur kereta api Trans Sumatera masih membutuhkan waktu lama pengerjaannya. Mengingat banyaknya kluster yang akan dibangun sepanjang 2.500 km, yang terdiri dari kluster pertama di Provinsi, kluster kedua di Sumatea Utara, kluster ketiga di Sumatera Barat, dan kluster keempat di Sumatera Bagian Selatan. Tentu pembangunannya memakan waktu yang tidak singkat.
Adanya transportasi ini semakin mempersingkat waktu dan jarak tempuh. Mengingat saat ini jalur darat di Sumatera via darat hanya bisa dilalui oleh bus. Jalur kereta api hanya terputus Lampung-Palembang, selebihnya kereta bandara di Kualanamu-Medan.
Pembangunan transportasi publik membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Mega proyek ini direncanakan akan di pegang oleh pemerintah sebanyak 70 persen dan sisanya akan ditangani oleh pihak swasta. Kendala lain pun terkait dengan pembebasan lahan yang sangat sulit untuk di negosiasikan para petani.
Pembangunan kereta api trans Sumatera tentu saja mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga Sumatera semakin mudah dalam menjalankan mobilitasnya dengan transportasi yang murah. Selain itu, pihak Kereta Api Indonesia (KAI) juga akan meraih laba yang lebih besar lagi, mengingat kereta api adalah mode transportasi yang paling banyak diminati masyarakat karena tarifnya yang terjangkau.
Jika memang benar, transportasi publik ini terealisasi, bukan tidak mungkin maskapai penerbangan yang merupakan jalur satu-satunya transportasi cepat di Sumatera akan mengalami penurunan penumpang yang signifikan. Mengingat saat ini hanya mode transportasi pesawatlah yang digunakan oleh warga Sumatera.
Berkaca pada pembangnan publik, seperti Jembatan Suramadu yang menimbulkan pro dan kontra, tentu pembangunan kereta api trans Sumatera juga menimbulkan hal yang serupa. Jadi bisa sangat kemungkinan, mode transportasi lain akan mengalami kerugian.
