Jakarta, IDN Times - Tuti (50), penyandang disabilitas tunanetra yang berdomisili di Bekasi, saat ini merasakan kemudahan beraktivitas sehari-hari untuk bekerja di Jakarta. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kini dia merasa terbantu saat berjalan di jalur pedestrian Ibu Kota.
“Untuk jalan (pedestrian) sudah lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. (Jalur) itu memang sudah banyak perubahan dari dulu sampai sekarang,” tutur Tuti, Sabtu (26/10).
Perempuan yang sudah beraktivitas di Jakarta sejak 1998 itu menambahkan bahwa adanya guiding block di jalur pedestrian juga membantunya dalam melihat. Untuk diketahui, Tuti ialah seorang tunanetra dengan sisa penglihatan atau jarak pandang terbatas.
“Apalagi dengan adanya guiding block. Kalau bagi saya yang masih dapat melihat dengan bantuan cahaya ini, adanya kondisi trotoar sekarang dilengkapi dengan guiding block berwarna kontras sangat membantu,” tutur Tuti.
Revitalisasi jalur pedestrian dan pembangunan infrastruktur di Jakarta beberapa tahun ini memang diperuntukkan bagi setiap masyarakat tanpa melihat apa pun latar belakangnya. Hal itu sesuai dengan pandangan Gubernur Jakarta Anies Baswedan bahwa di setiap pembangunan ada gagasan di baliknya.
"Ada gagasan untuk membuat fasilitas publik yang setara bagi semuanya. Siapa saja dapat kesempatan yang sama,” tutur Gubernur Anies.
Bukan hanya makin baik bagi penyandang disabilitas, diperlebarnya jalur pedestrian dan adanya alarm untuk menyeberang juga mendapat pujian dari Tuti. Ia pun mencontohkan, kesehariannya menggunakan KRL, keluar kereta, dan mencari alur menjadi makin baik.
“Apalagi sekarang kan banyak penyeberangan jalan dengan alarm. Sangat membantu itu. Saya sih berharap di semua fasilitas layanan umum itu bisa ada semua. Untuk kita yang tunanetra sangat membantu karena kan ada suara ketika kita pencet untuk bisa menyeberang. Tentu saja bukan hanya bagi tunanetra, ya, teman-teman disabilitas lain juga bisa menggunakannya,” tutur Tuti
Peningkatan kualitas fasilitas umum tersebut tentu bukan tanpa hambatan. Sebagai aktivis penyandang disabilitas, Tuti pun berharap jalur pedestrian terus ditertibkan. Sebab, ia khawatir jika menginjak dagangan orang yang berdagang dan menabrak motor yang diparkir di jalur pedestrian.
“Maksud saya ditertibkan ini, yang harusnya untuk pejalan kaki, penyandang disabilitas, bahkan lansia itu, masih ada di beberapa titik (jalur pedestrian) digunakan untuk lahan parkir dan kaki lima pedagang. Itu sayang banget. Seandainya kita jalan, tiba-tiba kita menginjak dagangan mereka atau menabrak motor yang diparkir di situ kan otomatis kita enggak enak sekali,” tutup Tuti.
