Kendati angka kemiskinan dinyatakan turun dan intervensi kesehatan telah dilakukan, namun kasus kekurangan gizi masih terjadi. Tak hanya di daerah terpencil, kota besar pun tak luput dari kasus kekurangan gizi.
Sejak 2015 hingga 2016, Dinas Kesehatan Kota Bekasi mencatat sebanyak 194 balita didiagnosa medis menderita gizi buruk. Selain disebabkan pola pengasuhan yang salah, gizi buruk juga terjadi akibat infeksi penyakit dan minimnya ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga.
Pada awal 2018, Kejadian Luar Biasa (KLB) Gizi Buruk dan Campak Suku Asmat Papua menjadi sorotan. Sebab, tercatat korban meninggal sebanyak 72 anak. Dari jumlah tersebut, 66 meninggal karena campak dan 6 lainnya karena gizi buruk.
Berdasarkan keterangan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI Anung Sugihantono, KLB dipicu oleh minimnya aksesibilitas kesehatan dan pangan, minimnya pengetahuan masyarakat soal gizi, dan buruknya masalah sanitasi.
Selain itu, kendala utama penanganan wabah adalah kondisi medan yang sangat berat. Sulitnya akses jalan dan jarak tempuh menjadikan penanganan terkesan lambat.
Pada Agustus 2018, di Pulau Seram tercatat 170 jiwa yang dalam kondisi terancam kelaparan akibat gagal panen. Mereka terdiri dari 75 orang dewasa, 60 orang usia lanjut, dan 35 balita.
Kemudian di Asmat, Papua, sedikitnya 60 warga meninggal karena gizi kronis dan terserang penyakit campak.
Baru-baru ini, Intan Zahar (4), dilaporkan mengidap gizi buruk akut (marasmus) di Desa Kuala Keureto, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara. Ia pun dilarikan ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.