IDN Times/Axel Jo Harianja
Prigi menuturkan, berdasarkan hasil investigasi Brantas Coalition to Stop Imported Plastic (Brascip), impor sampah kertas disusupi oleh kontaminan (bahan atau senyawa) sampah rumah tangga, khususnya sampah plastik dengan persentase mencapai 30 persen.
Tingginya kontaminan sampah plastik dalam impor sampah kertas itu kata Prigi, lebih banyak menimbulkan dampak lingkungan di Jawa Timur. Di antaranya, pencemaran mikroplastik di Sungai Brantas.
Temuan Ecoton lanjut dia, menunjukkan 12 pabrik kertas (lokasi pabrik di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Kediri, dan Nganjuk) memanfaatkan bahan baku sampah impor dan membuang limbah cair bercampur mikroplastik ke Kali Surabaya, yang menjadi bahan baku PDAM bagi 5 juta penduduk Jatim.
"Mikroplastik sangat berbahaya karena di air akan menyerap polutan seperti detergen, pestisida, logam berat, dan senyawa kimia yang selanjutnya masuk ke dalam tubuh melalui air dan makanan yang terkontaminasi mikroplastik (faktanya, 80 persen ikan di Brantas mengandung mikroplastik)," tuturnya.
Kemudian, penyebaran bahan karsinogen di udara Jawa Timur, kata Prigi, umumnya berasal dari sampah impor.
"Hanya bisa diolah 60 persen, sisanya sekitar 40 persen akan dibakar dan sebagian dimanfaatkan untuk bahan bakar industri kecil," katanya.
"Pembakaran plastik akan memicu terlepasnya senyawa dioksin dan furan, keduanya merupakan bahan karsinogen pendorong kanker paru-paru," sambungnya.