Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jokowi Berharap Duterte Mau Bagi Kuota Haji Tak Terpakai di Filipina untuk WNI

Presiden Joko Widodo telah melobi Presiden Filipina Rodrigo Duterte terkait kuota haji untuk Filipina. Presiden Jokowi ingin agar kuota haji yang selama ini tidak terpakai di Filipina bisa secara resmi digunakan oleh Indonesia yang kekurangan kuota haji.

Dilansir BBC.com, (10/9), Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjelaskan apabila diizinkan secara resmi, kuota-kuota dari negara sahabat, atau tetangga yang tidak digunakan itu bisa digunakan oleh Indonesia, maka ini akan menguntungkan bagi para jemaah haji yang ingin segera berangkat ke tanah suci.

Pramono juga menambahkan nasib 700 warga negara Indonesia yang sudah telanjur naik haji secara ilegal dengan menggunakan paspor Filipina melalui Manila juga akan dibicarakan. Pemerintah akan meminta agar 700 WNI itu dianggap sebagai korban dan tidak perlu diproses secara hukum oleh Pemerintah Filipina.

Sebelumnya, Jokowi juga sudah berbicara dengan Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz agar menambah kuota Indonesia sebesar 10.000 anggota jemaah per tahun. Pasalnya jika menunggu haji tersebut bisa sampai 20 tahun. Pasalnya, antreannya juga terlalu panjang.

Selain membicarakan permasalahan haji, Jokowi juga akan membicarakan masalah penyanderaan WNI di Filipina. Hingga saat ini, sembilan WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf belum berhasil dibebaskan.

Jokowi berterima kasih kepada Duterte.

Presiden Joko Widodo mengapresiasi sikap Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte yang menyelesaikan masalah 177 calon jemaah haji pulang ke Indonesia setelah kedapatan ingin naik haji menggunakan paspor Filipina. Kini 168 jemaah sudah dapat diperbolehkan pulang ke Indonesia karena telah merampungkan masalah terkait haji ilegal ini. Sembilan sisanya masih ada di Manila dan pihak Indonesia telah meminta agar segera dibantu untuk secepatnya diselesaikan.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Filipina Rodrigo Duterte menjelaskan kedua negara sepakat dalam penanganan terorisme dan ekstrimisme. Peredaran narkoba juga disinggung dalam pertemuan tersebut.

Sebelum memulai pembicaraan bilateral, Jokowi menyebut kunjungan yang dilakukan oleh Presiden Duterte hari ini merupakan kunjungan di saat yang tepat. Hal itu karena saat ini merupakan momentum angka perdagangan kedua negara semakin menunjukkan peningkatan di tengah tren pertumbuhan ekonomi dunia yang menunjukkan hal sebaliknya.

Editorial Team

EditorRizal